Hongkong – Sekitar sepuluh persen warga negara Eropa yang tinggal di Hong Kong telah meninggalkan kota itu selama 18 bulan terakhir, dengan alasan penerapan aturan terkait Covid-19 yang mereka katakan tidak dapat diprediksi.
“Tindakan yang tidak dapat diprediksi sebagai alasan utama kepergian mereka,” ungkap pihak otoritas UE untuk Hong Kong dan Makau.
Selain itu, dalam sebuah pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Kantor UE disebutkan pula, keprihatinan mereka tentang larangan penerbangan kota, pembatasan serta persyaratan karantina, yang lebih lama dari yang disyaratkan oleh hampir semua Negara Anggota Uni Eropa.
[quads id=8]
“Kami juga meminta dialog, tidak hanya mengenai keprihatinan ini, tetapi juga sebagai kesempatan untuk berbagi pengalaman kami sekaligus memberikan dukungan kepada penduduk Hong Kong,” bunyi pernyataan tertulis kantor UE kepada media.
Mereka juga menambahkan bahwa pihaknya berterima kasih atas layanan garis depan dan pekerja medis yang sudah bekerja maksimal.
Saat ini Hongkong menghadapi gelombang infeksi Covid-19, yang paling mematikan yang pernah dialami, tercatat 21.979 kasus positif dan 47 kematian dilaporkan dalam 24 jam terakhir.
Pihak berwenang juga telah memberlakukan beberapa pembatasan perjalanan paling ketat di dunia di tengah pandemi karena para pelancong harus dikarantina di sebuah hotel hingga 14 hari dan sering menjalani tes Covid-19.
Pada hari Selasa, pihak berwenang di Hong Kong memutuskan, larangan penerbangan dari sembilan negara, seperti Australia, India, AS, Prancis, dan Inggris, akan diperpanjang hingga 20 April.
Dirasa sangat memberatkan karena negara tersebut telah memberlakukan larangan ini sejak 8 Januari.
[quads id=8]
Pemerintah Hong Kong sebelumnya mengumumkan untuk memajukan liburan musim panas sekolah hingga Maret dan April untuk kemudian menggunakan sekolah tadi sebagai tempat pengujian Covid-19.
Ditambah lagi, anak-anak yang dites positif di kota tidak diizinkan tinggal di rumah sakit bersama orang tua mereka – sebuah langkah yang mengundang kontroversi.
Sementara itu, Negara Anggota UE juga memberlakukan aturan yang lebih ketat untuk negara Hong Kong.
Baru-baru ini, otoritas Ceko menghapus wilayah itu dari daftar aman karena kasus Covid-19 yang melonjak sekaligus menambahkannya ke kategori merah tua.
“Berdasarkan diskusi antara Komisi Eropa dan duta besar Negara-negara Anggota untuk UE tentang varian virus corona baru, Hong Kong akan dikeluarkan dari kategori negara-negara hijau sesuai dengan tingkat risiko penyakit mulai Selasa, akan dimasukkan dalam kategori merah tua,” bunyi siaran pers seperti dilansir dari laman SchengenVisaInfo.
Terakhir, menurut Tourism Board, 9.448 pengunjung mencapai Hong Kong Desember lalu, dibandingkan dengan 3.191.466 pada bulan yang sama pada 2019, menunjukkan penurunan kedatangan.
[quads id=8]
