Fakta Kontroversial Presiden Erdogan yang Menjadikan Hagia Sophia Sebagai Masjid

news.detik.com

Perhatian dunia khususnya Uni Eropa tengah tertuju kepada Presiden Recep Tayyib Erdogan. Pasalnya presiden dari Turki itu menjadikan Hagia Sophia yang semula katredal untuk Kristen Ortodoks menjadi masjid. Bahkan Yunani mengancam akan membuat rumah Bapak Republik Turki Mustafa Kemmal yang kebetulan terletak di Yunani sebagai rumah jagal. Namun Presiden Tayyib Erdogan tetap tidak bergeming, dia tetap menjadikan Hagia Sophia sebagai masjid.

Membicarakan lebih jauh tentang Presiden Tayyib Erdogan memang tidak ada habisnya. Presiden yang menjadi tokoh muslim ke 2 paling berpengaruh di dunia ini kebijakannya memang selalu kontroversial. Mulai dari bermusuhan dengan Suriah, perlawanan terhadp kudeta tahun 2016 hingga bermusuhan dengan Amerika Serikat.

1.Bermusuhan dengan Suriah

/www.youtube.com

Sebenarnya Suriah adalah tetangga dari Turki namun hubungan kedua negara ini tidak akur. Ada beberapa alasan mengapa kedua negara ini tidak akur diantaranya yakni. Pada tahun 1999 Suriah mendukung Kurdi untuk merdeka dari Turki. Bahkan dalam bentuk dukungannya juga memberikan persenjataan. Hal tersebut cukup merepotkan Turki buktinya dalam aksinya di tahun 1980 Kurdi ini berhasil membunuh 10 ribu orang. Tidak heran atas aksinya ini baik Turki, Amerika Serikat dan Uni Eropa menempatkan Pemberontak Kurdi sebagai teroris.

Sehingga tidak heran saat terjadi perang saudara di Suriah pihak Turki mendukung pemberontak Suriah dalam melawan Presiden Bashar al-Assad. Tujuannya sederhana yakni apabila Presiden Bashar al-Assad dijatuhkan tidak ada lagi bantuan untuk kelompok Pemberontak Kurdi.  Hal tersebut dibuktikan saat perang saudara Suriah berlangsung Turki mengambil kesempatan dengan menguasai wilayah utara Suriah. Dengan alasan yakni mengejar pasukan pemberontak Kurdi yang menyebrang ke Suriah. Wilayah Suriah yang menjadi kontrol Turki itu diantaranya yakni Kota Tal Abyad dan Kota Ras al- Ain.

Namun ada konspirasi lain soal mengapa Presiden Erdogan ingin menyingkirkan Presiden Assad. Karena Qatar yang merupakan negara penghasil gas terbesar di dunia telah membuat pipa gas dari Qatar ke Eropa. Sehingga sambungannya dari Arab Saudi, Kuwait dan Irak. Sayangnya saat sampai di Suriah sambungan pipa gas itu ditolak oleh Presiden Assad. Tujuannya yakni menjaga kepentingan sekutunya Rusia. Sebab Rusia sendiri adalah pemasok gas terbesa di Eropa. Sehingga dengan adanya gas dari Qatar itu tentu akan mengganggu pendapatan Rusia sendiri. Nah dengan alasan itulah mengapa Turki ingin menjatuhkan Presiden Assad karena dia sendiri menyetujui dilewati jalur pipa tersebut.

2.Perseteruan dengan Amerika Serikat

Semula berawal saat Turki menahan Pastor Andrew Brunson yang dituduh ikut terlibat dalam kudeta 2016. Karena kuat dugaan pastor dari Amerika Serikat itu mendukung kudeta Mohamed Fethullah Gulen. Hal itu memicu kemarahan Presiden Donald Trump terhadap Presiden Erdogan. Dibuktikan dengan memberikan sanksi keuangan kepada Turki. Dengan cara memberlakukan beas masuk tinggi baja dan alumunium Turki. Selain itu Amerika Serikat juga membekukan dana - dana para menteri Turki di bank - bank Amerika.
Menyikapi embargo itu Presiden Erdogan menyikapi dengan melawan. Banyak pidato - pidatonya yang berisi perlawanan terhadap Amerika Serikat. Karena bila tunduk pada Amerika Serikat sama saja takluk dan tunduk pada dominasi Amerika Serikat.

Sebenarnya banyak alasan kenapa kedua negara itu bermusuhan. Tidak lain karena Amerika Serikat membantu pemberontak Kurdi untuk mendirikan negara baru. Sehingga Turki membalas dengan membeli sistem pertahanan rudal S-400 dari Rusia bukan sistem pertahanan dari Amerika Serikat. Hal tersebut secara nyata dapat dilihat saat secara tidak sengaja pesawat tempur Turki menembak pesawat pengangkut militer milik Rusia yang berada di wilayah Rusia. Buru - buru pasca kejadian itu Presiden Erdogan datang ke Rusia untuk meminta maaf secara langsung.

Kedekatan Turki dengan Rusia menjadi alasan mengapa Amerika Serikat menjadi pihak yang berlawanan terhadap Turki. Maka tidak heran pelaku kudeta 2016 yakni  Mohamed Fethullah Gulen bersembunyi dan aman di Amerika Serikat. Apalagi terdapat fakta bahwa Turki tidak mengikuti himbauan Amerika Serikat untuk mengembargo Iran. Sebab pihak Iranlah yang memberitahu Presiden Erdogan tentang adanya rencana kudeta oleh  Mohamed Fethullah Gulen. Hal itu dilakukan setelah menyadap lalu lintas radio militer Turki.

3.Kudeta 2016

Mohamed Fethullah Gulen adalah pihak yang dituduh Presiden Erdogan sebagai pihak yang melakukan kudeta terhadapnya di tahun 2016. Sedangkan  Mohamed Fethullah Gulen mempunyai pandangan berbeda menurutnya Presiden Erdogan sengaja membuat kudeta longgar yang kemudian dilindasnya untuk dapat memberangus musuh - musuhnya di dalam negeri.

Dalam kudeta yang terjadi tanggal 15 Juli 2016 itu dilakukan oleh fraksi di Angkatan Bersenjata Turki namun berakhir gagal. Yakni dengan cara mengebom gedung parlemen, mengebom istana kepresidenan dan menyerang kediaman Presiden Erdogan. Berawal dari serangan jet temput para pelaku kudeta dan serangan militer pemberontak lainnya. Hasilnya dalam kudeta itu sebanyak 17 polisi tewas.

Menanggapi kudeta itu Presiden Erdogan menyerukan kepada pendukungnya untuk turun ke jalan - jalan. Kemudian pasukan pemerintah mulai kembali bergerak dan mengalahkan pelaku kudeta. Hasilnya sebanyak 6.030 tentara ditangkap dan 2.745 hakim ditangkap. Selain itu ribuan lainnya yakni polisi, akademisi dan pegawai negeri yang berafiliasi dengan Mohamed Fethullah Gulen ditangkap oleh kepolisian pro Presiden Erdogan.

Tidak heran dengan mudahnya Presiden Erdogan mematahkan perlawanan kudeta ini membuat banyak pihak menduga kudeta ini sudah diketahui sebelumnya. Kemudian digunakan sebagai momentum untuk mengalahkan para oposisi yang melawan Presiden Erdogan.

Komentar