Perubahan Hagia Sophia Menjadi Masjid yang Kontroversial

Sedang Populer

Warna Biru Media
Sumber Inspirasi dan berita terpercaya

Hagia Sophia pada awalnya adalah. Adalah katredal terbesar di dunia yang didirikan oleh Kaisar Bizantium pada tahun 537. Katredal yang dibangun Kaisar Justinian itu mempunyai ciri khas yakni adanya lukisan mosaik di beberapa bagian gedung mayoritas di atap. Yakni lukisan Bunda Maria dan Yesus.

Bangunan ini juga mempunyai kubah terbesar di dunia. Kubah awal memiliki tinggi 161 meter dengan diameter 40 meter namun roboh pada tahun 558. Kemudian diperbesar dengan lebar 55 meter.

Bahan bangunan yang digunakan juga cukup kuat karena tiang – tiangnya berasal dari Kuil Artemis. Sisanya bahan bangunan berasal dari situs kuno Baalbeck dan Pergamon.

Setelah katredal ini berdiri kemudian terjadi Perang Salib antara kaum muslim dengan kaum kristen yang berakhir dengan kemenangan Kekaisaran Turki Utsmani pada tahun 1435.

Sejak saat itulah fungsi katredal ini diganti menjadi masjid. Yakni ditambah mihrab, minbar, dapur, perpustakaan dan makam. Kemudian lukisan Bunda Maria dan Yesus ditutup dengan plester dan lukisan dekorasi.

Namun pasca Perang Dunia I Kekaisaran Turki Utsmani kalah karena dikeroyok banyak musuh. Kemudian sistem pemerintahan semula kerajaan diganti menjadi republik dengan presiden pertama Mustafa Kamal Attaruk pada tahun 1935.

Nasib Hagia Sophia juga merubah karena dijadikan museum. Lukisan Bunda Maria dan Yesus yang semula diplester kemudian dibuka sehingga dapat terlihat hingga saat ini.

Pada awal tahun 2020 Presiden Recep Tayyip Erdogan memutuskan merubah museum Hagia Sophia menjadi masjid kembali. Hal ini didukung oleh putusan pengadilan setempat yang mengizinkan perubahan museum itu menjadi masjid.

Namun menyikapi perubahan itu banyak negara Uni Eropa protes sebab bangunan itu adalah simbol budaya dan simbol bagi umat Kristen di dunia. Bahkan Yunani mengancam akan menjadikan rumah kelahiran Mustafa Kemal Ataturk sebagai museum genosida.

BACA JUGA:  Klarifikasi Hijaber yang Diduga Menduduki Bendera Merah Putih

Tidak hanya Hagia Sophia saja yang menjadi kontroversial saat fungsinya dirubah. Banyak bangunan agama lainnya di dunia  yang menjadi kontroversial pasca fungsinya dirubah menjadi fungsi bangunan lain. Seperti Masjid Babri di India yang kemudian dirubah menjadi kuil. Dimana proses menjadi kuil itu mengorbankan ratusan nyawa karena kontroversialnya.

Semula berawal dari seorang raja bernama Babur yang berkuasa di wilayah Farghana, Asia Tengah. Dengan pelan tapi pasti raja dengan nama Islam Zhainuddin Muhammad ini menguasai wilayah Afghanistan dan India.

Saat menguasai wilayah India tahun 1527 dia mendirikan Dinasti Mughal dan masjid di Uttar Pradesh, India. Konon dalam pembangunannya ini Babur menghancurkan kuil tempat kelahiran Sri Rama yang merupakan titisan Dewa Wisnu dalam Agama Hindu.

Sehingga selain dinamai Masjid Babri nama bangunan itu juga dijuluki I Janmasthan yang berarti tempat kelahiran.

Pasca Perang Dunia I Dinasti Mughal runtuh setelah dihancurkan Inggris. Yang kemudian secara pelan tapi pasti wilayah India diisi mayoritas penganut Agama Hindu.

Tercatat sejak kemerdekaan India, agama selalu menjadi isu sensitif apalagi pasca Pakistan memisahkan diri dari India. Masjid Babri tercatat sebagai salah satu tempat ibadah yang memakan banyak korban karena muslim disana adalah kaum minoritas ditengah – tengah mayoritas pemeluk Agama Hindu.

Pada tahun 1949 muncul isul adanya patung Sri Rama di dalam Masjid Babri sehingga memantik kepercayaan bahwa disitulah tempat kelahiran Dewa Sri Rama. Namun pemerintah terkesan lamban menutupi isu itu karena tidak berusaha memindahkan patung tersebut.

Insiden besar terjadi saat Partai Bharata Janatiya berkuasa di Uttar Pradesh pada tahun 1991. Dengan hasutan tokoh politik dan agama para rakyat digerakkan untuk mengancurkan Masjid Babri itu.

BACA JUGA:  Beli Tanah Bila Jodoh Dapat Janda di Kudus 

Hasilnya monumen berusia 460 tahun itu runtuh dan menjadi puing – puing. Hal itu dibayar dengan kerusuhan massa nasional antara umat Islam dan Hindu di India. Akibatnya lebih dari 2.000 nyawa meninggal dunia.

Selain itu di kota – kota besar India kaum minoritas muslim banyak menjadi korban diskriminasi pasca peristiwa itu.

Menjadi semakin memuncak saat Perdana Menteri Narendra Modi terpilih menjadi perdana menteri di India. Dia dikenal sebagai tokoh India yang konservatif terhadap agama Hindu.

Tidak heran pasca terpilihnya menjadi perdana menteri pihak Mahkamah Agung India memberi keputusan bahwa di atas reruntuhan Masjid Babri itu diperbolehkan didirikan Kuil Dewa Krisna.

Dengan alasan berdasarkan bukti sejarah yang diajukan pemohon disana sebelum ada Masjid Babri telah berdiri kuil beragama Hindu tersebut. Kontak keputusan Mahkamah Agung India itu memicu protes dari banyak pihak kaum muslim.

Belum reda protes pendirian kuil di atas reruntuhan Masjid Babri muncul kontroversi baru. Yakni saat Perdana Menteri Narendra Modi mengajukan RUU Kewarganegaraan India. Dimana undang – undang mempercepat imigran beragama minoritas di India untuk mendapatkan kewarganegaraan India.

Agama minoritas itu adalah Sikh, Budha, Kristen dan Katholik. Tidak adanya Islam di undang – undang itu membuat umat Islam disana melakukan demonstrasi besar – besaran sehingga menimbulkan bentrok berdarah awal Januari 2020 di berbagai kota besar di India.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Rekomendasi Untuk Anda

Sedang Populer