Viralnya Konser Dangdut yang Diselenggarakan Wakil Ketua DPRD Tegal

Kumparan.com

Warnabiru.com - Wakil Ketua DPRD Kota Tegal, Wasmad Edi Susilo, menyelenggarakan konser dangdut dalam rangka perayaan pernikahan di tengah pandemi Covid-19.

Konser yang banyak dikecam berbagai pihak ini diselenggarakan di Lapangan Tegal Selatan, Tegal, Jawa Tengah, Rabu, 23 Agustus 2020.

Banyak laporan tentang konser dangdut tersebut yang tidak menerapkan protokol kesehatan. Mulai dari tidak menggunakan masker hingga tidak menetapkan physical distancing.

Seperti postingan akun Instagram atas nama akun @memoefriantto. Dalam postingannya terlihat ribuan orang memadani ruang terbuka untuk menghadiri acara dangdut.

"Antara warga dengan lainnya banyak yang tidak berjarak sama sekali. Terutama di depan panggung hiburan, mereka tampak berdesak - desakan. Apalagi, warga yang tak memakai masker," demikian penjelasan akun @memoefriantto.

Konser dangdut yang dinilai mencederai semangat melawan epidemi Covid-19 itu berdampak panjang. Dilansir dari kompas.com pasca peristiwa itu Kapolsek Tegal Selatan, Kompol Joeharno dinonaktifkan dari jabatan. Dimana hal tersebut dilakukan karena diduga Joeharno melakukan pembiaran atas konser dangdut tersebut.

Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Humas Polri, Irjen Argo Yuwono. Selain dinonaktifkan Joeharno juga diperiksa oleh Propam.

"Kapolsek sudah diserahterimakan dan kapolseknya diperiksa oleh Propram," jelas Irjen Argo Yuwono pada Sabtu, 26 September 2020.

Dalam penjelasannya Kapolsek Tegal Selatan, Kompol Joeharno, menyatakan bahwa dalam izinnya acara hanya diselenggarakan secara sederhana karena acara pernikahan dan khitanan anak.

"Pak Wasmad Edi Susilo yang notabene Wakil Ketua DPRD Kota Tegal mengajukan izin saat 1 September untuk menyelenggarakan pernikahan dan khitan anaknya," jelas Kompol Joeharno.

Ternyata saat dicek tidak sesuai perizinan karena dilakukan dengan megah dan memicu kerumunan massa. Mencegah potensi penyebaran Covid-19 pihak Kompol Joeharno sudah mencabut surat izin penyelenggaraan keramaian tersebut.

"Artinya sudah perbuatan melawan hukum. Karena izin yang diberikan tidak sesuai dengan awal yang diajukan hingga akhirnya izin dicabut. Maka tidak ada pengaman anggota malam itu," jelas Kompol Joeharno.

Namun Wakil Ketua DPRD Kota Tegal, Wasmad Edi Susilo, bersikukuh tetap melanjutkan karena semua sudah disiapkan. Pihak Kompol Joeharno hanya bisa bergeming karena kekurangan personil untuk membubarkan konser itu.

''Tidak berani menutup paksa mengingat kami dari Polsek tidak mempunyai kekuatan yang signifikan." Jelas Kompol Joeharno.

Selain itu dirasa tidak elok naik panggung untuk membubarkan acara dangdut. "Alasan kedua, tidak elok rasanya kami naik ke panggung menghentikan paksan" jelas Kompol Joeharno.

Atas peristiwa itu pihak penyelenggara acara musik dangdutan kemungkinan akan dijerat UU Karantina Kesehatan dan KUHP. Hal tersebut dijelaskan oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Awi Setiyono.

"Terlapor dapat diduga telah melanggar Pasal 93 UU Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Karantina Kesehatan dan Pasal 216 Ayat 1 KUHP," jelas Brigjen Awi Setiyono di Gedung Bareskrim yang terleyak di Jakarta Selatan, pada Jumat, 25 September 2020.

Isi Pasal 93 UU Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Karantina Kesehatan adalah sebagai berikut. "Setiap orang yang tidak mematuhi penyelenggaraan karantina kesehatan sebagaiamana karantina kesehatan sebagaiamana dimaksud dalam Pasal 9 Ayat (1) dan atau menghalang - halangi penyelengaraan karantinaan kesehatan sehingga menyebabkan kedaruratan kesehatan masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama satu tahun dan atau pidana paling banyak Rp 100 juta,"

Sedangkan bunyi Pasal 216 ayat (1) KUHP adalah sebagai berikut.
"Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang - undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana, demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang - halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan undang - undang yang dilakukan oleh salah seorang pejabat tersebut, diancam dengan pidana paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak Rp 9.00"

Terkait kasus penyelanggaraan dangdut oleh Wakil Ketua DPRD Kota Tegal ini. Pihak Polres Tegal Kota juga telah memeriksa beberapa saksi.

"Kemarin dibuatkan laporan informasi, hari ini kemudian ditingkatkan menjadi laporan polisi, dan sudah dilakukan klarifikasi pemeriksaan saksi - saksi ada 10 orang," jelas Brigjen Awi Setiyono.

Pihak penyelenggara acara yakni Wakil Ketua DPRD Kota Tegal, Wasmad Edi Susilo, meminta maaf atas perbuatannya yang dinilai mencederai semangat pencegahan Covid-19 itu.

"Saya mengakui saya lalai. Saya menyampaikan maaf kepada semua pihak. Warga Kota Tegal, tamu undangan, penegak hukum, dan Pemkot Tegak," jelas Wasmad Edi Susilo, kepada kompas.com lewat sambungan telepon pada Jumat, 25 September 2020.

Anggota DPRD dari Fraksi Partai Golongan Karya ini menyatakan sebagai tuan rumah sudah menerapkan physical distancing.

"Saat hari H, panitia dan seluruh tamu undangan wajib masker. Dari pintu ada disinfektan, cek suhu badan, cuci tangan, dan jarak duduk tamu juga diatur. Tamu dilarang menyentuh tuan rumah atau pengantin," jelas Wasmad Edi Susilo.

Dia mengakui izin keramaiannya dicabut karena animo masyarakat untuk melihat acara dangdut yang dia selenggarakan sangat tinggi. Namun karena masyarakat sudah datang dirinya merasa tidak etis apabila menutup hajatan.

"Karena undangan sudah menyebar, tamu sudah datang, saya tidak mungkin menutup hajatan. Tidak etis dan mengecewakan semua undangan," kata Wasmad Edi Susilo.

Pihak Wasmad Edi Susilo berharap agar kasus ini menjadi pelajaran publik. Sehingga tidak terjadi lagi penyelenggaraan acara hajatan yang dapat memicu penularan Covid-19.

"Saya pribadi sekali lagi memohon maaf kepada semua pihak. Harapannya mudah - mudahan setelah hajatan saya tidak ada klaster baru dan semua aman sehat," tutup Wasmad Edi Susilo.