[quads id=8]
“Kamu percaya shalat, ngaji, dapat pahala, ya sudah jalani saja,” ungkap Dorce menirukan jawaban Gus Dur saat itu. Sekaligus mengatakan jawaban tersebut tidak membebankan.
Dorce sadar, statusnya memancing polemik karena posisinya sebagai publik figur yang sering muncul di depan khalayak ramai. Meski tidak langsung, tidak sedikit orang yang membela atas pilihan hidupnya tersebut.
“Saya kadang berkata kepada mereka, sudahlah, nggak perlu terlalu melindungi saya. Saya orangnya begini ya biarkan saja. Masuk ke surga atau neraka itu terserah Allah. Seandainya neraka yang saya dapat, jika Allah ridha, ya tak terima,” ucap Dorce.
Dorce mengungkapkan jasa baik Gus Dur dan Gus Miek yang membelanya tanpa pamrih, spontan, tidak ngumpet-ngumpet, serta tidak takut dengan cercaan publik.
“Gus Dur di mata saya, sosok yang dapat mengerti pikiran saya. Itulah kenapa saya sangat sedih jika melihat beberapa orang main hujat dan caci maki sama Gus Dur, di internet misalnya. Mereka melakukan itu karena mereka sebenarnya tidak tahu siapa Gus Dur,” papar Dorce.
Saat ini, jika anda kebetulan lewat di Jalan Rawa Binong, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Dan ada Masjid bernama Al-Hayyu 63, Dorce-lah yang memprakarsai pembangunannya.
Pada saat peresmian, Dorce mengundang Gus Dur berserta Ibu Sinta Nuriyah untuk meresmikan Masjid Al-Hayyu 63.
Gus Dur waktu itu pidato,“Dorce itu cuma satu, jadi tolong dijaga.” Dorce yang mendengarnya merasa senang dan terharu. Ia sadar bukan siapa-siapa namun juga terharu terhadap sosok Gus Dur, Presiden ke-4 RI dalam kondisi fisik kurang sempurna, namun berkenan datang langsung pada acaranya.
[quads id=8]
