Ingatkan Bahaya Laten TBC, Kemenkes: Terlihat Normal Saat Imun Bagus

Sedang Populer

Jakarta – Selama ini, masyarakat akrab dengan istilah “bahaya laten” yang selalu bahkan kebanyakan hanya dikaitkan dengan komunisme sebagai paham ideologi PKI (Partai Komunis Indonesia), yang dicurigai, bahkan ada yang meyakini, masih ada walau tidak terlihat, meski pena sejarah bangsa ini mencatat, mereka sudah diberantas pada tahun 1965.

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: kata “laten” memiliki tiga arti yakni tersembunyi, terpendam, dan tidak kelihatan (tetapi mempunyai potensi untuk muncul).

[quads id=8]

Nah, Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, Kementerian Kesehatan RI, Selasa 22 Maret dalam keterangan tertulis menyebutkan tentang perlunya masyakarat mewaspadai TBC Laten serta memahami bagaimana karakter penyakit tersebut.

Pasalnya penyakit tersebut telah menyebabkan 93 ribu kematian per tahun di Indonesia.
Perlu diketahui juga, selain TBC aktif yang dapat dilihat gejalanya, ada pula TBC laten yang patut diwaspadai karena tidak terlihat gejalanya dan bisa muncul kapanpun.

Menurut Ketua Yayasan Stop TB Partnership dr. Nurul H.W. Luntungan, MPH, penyakit TBC laten disebabkan oleh bakteri yang bersembunyi di dalam tubuh seseorang sehingga nampak tidak memiliki penyakit TBC.

[quads id=8]

“Penyakit TBC ini disebabkan oleh bakteri yang berbeda dengan bakteri lain. Mereka bisa sembunyi di dalam tubuh dan orang yang kena belum tentu terlihat sakit TBC,” papar dr Nurul dalam konferensi pers secara virtual di Jakarta, Selasa (22/3).

Sementara, Koordinator Substansi TBC, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakti Menular, Kemenkes dr. Tiffany Tiara Pakasi, MA, mengatakan infeksi TBC laten terjadi saat seseorang yang terpapar kuman TBC namun memiliki imunitas yang bagus sehingga menyebabkan orang tersebut tidak bergejala.

Namun yang sebenarnya terjadi kuman tersebut tidak hilang melainkan dalam posisi tertidur.

BACA JUGA:  Hari Ini, Giliran Rizky Billar Beserta Alffy Rev Diperiksa

[quads id=8]

“Sehingga, sewaktu-waktu kalau daya tahan tubuh seseorang turun dan lain-lain dapat memicu kuman tersebut, hingga menjadi tuberkulosis aktif,” tandas dr Tiara.

Untuk itu, Pemerintah memasukkan pengendalian TBC laten dalam sebuah program eliminasi setelah ada komitmen untuk mengakhiri TBC tahun 2030.

“Jadi baru beberapa tahun terakhir pemerintah memfokuskan TBC laten ke dalam program eliminasi TBC, serta memberi perhatian lebih pada kelompok yang paling berisiko, dalam hal ini kontak erat dari semua usia,” imbuhnya.

[quads id=8]

Skrining kontak erat dilakukan melalui pertanyaan serta melakukan pemeriksaan melalui tes tuberkulin di kulitnya atau melalui darah. Jika kedapatan ada TBC laten maka orang tersebut akan diberikan obat pencegahan TBC.

Caranya, dalam tes tuberkulin, sejumlah kecil protein yang mengandung bakteri TBC akan disuntikkan ke kulit di bawah lengan. Bagian kulit yang disuntikkan tadi akan diperiksa setelah 48-72 jam. Jika hasilnya positif, berarti orang tersebut telah terinfeksi TBC.

Karena TBC laten tidak bergejala, kebanyakan masyarakat enggan untuk melakukan skrining. Dan hal semacam ini jadi salah satu hambatan menemukan dan mengobati orang dengan TBC.

[quads id=8]

“Memang diperlukan juga edukasi. Bagi orang yang diketahui positif TBC minum obat tidak sekali minum, minum obat paling cepat itu 3 bulan seminggu sekali, ada juga yang 6 bulan tiap hari. Sehingga memang perlu diyakinkan mereka yang sudah kita tes berisiko TBC laten untuk mau minum obat,” pungkas dr. Tiara.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Rekomendasi Untuk Anda

Sedang Populer