Warnabiru.com – Ada beberapa fakta tentang nikotin yang mungkin belum kita ketahui selama ini.
Untuk masuk kesana, ada baiknya mengenal terlebih dahulu daun tembakau yang menjadi elemen utama untuk membuat sebatang rokok dan Nicotiana tabacum, daun dari tanaman tembakau digunakan manusia sejak ribuan tahun lalu.
Entah untuk dicampur dalam makanan sebagai penyedap rasa (mesir kuno), ataupun dikunyah, dihisap baunya dalam prosesi suci (Aztec, Inca).
Apa itu nikotin ? Laman sanglahhospitalbali pernah menuliskan Nikotin (C10H14N2) merupakan senyawa organic alkaloid, yang umumnya terdiri dari Karbon, Hydrogen, Nitrogen dan terkadang juga Oksigen.
[quads id=8]
Senyawa kimia alkaloid ini punya efek kuat dan bersifat stimulant terhadap tubuh manusia.
Contoh lain dari senyawa alkaloid adalah Kafein. Bagi pencinta kopi, tentu bisa merasakan efek stimulant dari kafein saat ketika menyeruputnya secangkir di pagi hari.
Konsentrasi nikotin biasanya sekitar 5% dari per 100 gram berat tembakau. Sebatang rokok biasanya mengandung 8-20 mg nikotin, walaupun tentu saja, sangat bergantung pada merk rokok tersebut.
Jika sobat warnabiru perokok, ketahuilah, tubuh manusia menyerap 1mg nikotin untuk satu batang rokok yang dihisap.
Nikotin dalam tubuh manusia
Layaknya zat additive lainnya, ada beberapa cara bagi nikotin untuk terserap dalam tubuh manusia, yakni melalui:
Kulit
Paru-paru
Mucous membranes (misal bagian dalam mulut atau lapisan dalam hidung kita)
Setelah terserap lewat salah satu cara diatas, nikotin akan masuk ke dalam system peredaran darah menuju ke otak lantas diedarkan ke seluruh sistem tubuh.
[quads id=8]
Merokok, atau proses inhalasi, merupakan cara paling umum dan tercepat bagi nikotin untuk terserap dalam darah.
Paru-paru kita mengandung banyak alveolus, semacam kantung kecil, tempat terjadinya pertukaran antara udara kotor dan bersih yang kita hisap.
Setelah berada dalam system peredaran darah, nikotin dengan cepat akan sampai ke otak, bereaksi dengan sel-sel otak sehingga terciptalah perasaan nyaman.
Dibutuhkan 5-15 detik setelah setelah hisapan pertama bagi Nikotin untuk bereaksi dalam tubuh (otak) kita. Dalam satu kali merokok, kira-kira 0,031 mg nikotin yang akan tertinggal dalam tubuh manusia.
Sumber Masalah Kesehatan?
Sementara dikutip dari laman kilat, nikotin dianggap biang kerok berbagai masalah kesehatan yang berkaitan dengan aktivitas merokok.
[quads id=8]
Oleh karenanya, para ahli hisap ada yang beralih menggunakan tembakau alternatif seperti produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik, maupun kantung tembakau.
Namun seringkali disamakan memiliki risiko yang sama dengan rokok karena masih mengandung nikotin.
Hingga muncul hasil kajian ilmiah tentang status produk tersebut yang disebutkan punya risiko lebih rendah dibanding rokok konvensional.
Lantas, apakah benar nikotin sumber masalah kesehatan? Simak 5 fakta lain tentang nikotin di bawah ini:
1. Bukan sumber masalah
Nikotin sesungguhnya alkaloid tanaman, bahan kimia alami yang mengandung nitrogen, bersifat stimulan yang sangat adiktif.
Meskipun sebagian besar nikotin ditemukan pada tanaman tembakau, nikotin juga dapat ditemukan pada tanaman tomat, terong, kentang, dan paprika hijau, tentu saja kadar nikotin jauh lebih rendah dibanding tanaman tembakau.
[quads id=8]
Mengutip laman resmi Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS), nikotin tidak menyebabkan kanker.
Namun bahan kimia beracun lainnya dalam rokok seperti TAR, karbon monoksida atau residu asap, justru merusak kesehatan.
“Orang mengonsumsi rokok, tetapi mereka mati karena asap rokok,” ujar Maria Chaplia, Manajer Riset Consumer Choice Center, dikutip dari India Times.
Dosen Departemen Keselamatan dan Kesehatan kerja (K3) dan ahli toksikologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Shoim Hidayat menjelaskan.
TAR merupakan residu yang dihasilkan dari proses pembakaran saat merokok. Proses pembakaran tersebut terjadi di suhu lebih dari 600 derajat Celcius. Saat asap rokok dihirup, TAR akan terpapar ke bagian dalam paru-paru.
“Kenapa bisa sakit kanker, jantung, dan paru-paru, salah satunya karena terpapar bahan-bahan toksik seperti TAR, senyawa karbon monoksida serra senyawa berpotensi bahaya lainnya. Jadi bukan nikotin pemicu berbagai masalah kesehatan akibat merokok,” papar Shoim.
[quads id=8]
Fakta nikotin bukan penyebab utama berbagai penyakit, dipertegas pandangan Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat (US FDA).
Dalam situs resmi FDA, dinyatakan nikotin membuat orang tetap menggunakan produk tembakau, namun ribuan bahan kimia yang terkandung dalam asap rokok membuat penggunaan produk ini jadi begitu berbahaya.
“Nikotin tempel dan permen karet nikotin sering digunakan dalam terapi pengganti nikotin. Ketika nikotin dikonsumsi dalam bentuk produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik, atau snus seharusnya tidak menjadi suatu masalah yang lebih besar,” ujar Maria dari laman FDA.
2. Nikotin dapat ciptakan adiksi
Efek samping dari nikotin dapat menciptakan ketergantungan. Namun itu bukan satu-satunya alasan kenapa begitu banyak orang tidak bisa berhenti merokok.
Mengutip studi tahun 2015 dalam jurnal ilmiah Drug And Alcohol Dependence menemukan bahwa potensi ketergantungan pada nikotin sangat rendah tanpa adanya asap tembakau.
[quads id=8]
3. Nikotin punya manfaat medis
Nikotin dinilai punya manfaat dalam medis. Maria menyebut tentang penelitian yang dilakukan pada era 1960-an, dimana resiko penyakit parkinson di kalangan perokok cenderung lebih rendah dan nikotin punya andil dalam hal tersebut.
“Penelitian tersebut menyatakan bahwa pria yang tidak merokok tetapi menggunakan snus memiliki risiko penyakit Parkinson lebih rendah secara signifikan. Salah satunya adalah efek kognitif positif nikotin,” papar Maria.
4. Mispersepsi nikotin
Sebanyak 57 persen responden survei di Amerika Serikat berpendapat, nikotin adalah zat yang menyebabkan sebagian besar jenis penyakit kanker yang disebabkan oleh merokok.
Bahkan 80 persen dokter percaya bahwa nikotin menyebabkan kanker. Dan, Maria menilai kedua pendapat tersebut keliru.
“Kesalahpahaman yang terjadi di kalangan masyarakat dan para ahli membawa konsekuensi negatif karena menyebabkan distorsi persepsi terhadap produk tembakau alternatif, yang 95 persen lebih rendah resikonya daripada rokok,” tegas Maria.
[quads id=8]
Lembaga eksekutif Departemen Kesehatan Inggris, Public Health England (PHE), dalam Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018 melaporkan.
Produk tembakau yang dipanaskan dan rokok elektrik memiliki risiko yang lebih rendah hingga 95 persen daripada rokok yang dibakar dan menghasilkan TAR.
Kembali diutarakan oleh Shoim, pemakaian produk tembakau alternatif, seperti tembakau yang dipanaskan, memiliki risiko lebih rendah daripada rokok karena penggunaannya melalui proses pemanasan.
“Pemanasan terjadi pada suhu yang terkontrol hingga 350 derajat Celcius. Dengan tidak adanya proses pembakaran, pengguna hanya menghirup aerosol dan nikotin, bukan TAR seperti pada rokok,” jelas Shoim.
5. Larangan nikotin tidak efektif
Sejarah telah menunjukkan bahwa upaya konvensional melarang suatu produk tidak akan berhasil.
[quads id=8]
Sehingga perlu dicoba cara-cara baru yang inovatif, misalnya untuk mengurangi angka perokok adalah dengan memberikan informasi yang akurat dan akses kepada para perokok dewasa terhadap produk tembakau alternatif.
Maria dari laman FDA mencontohkan larangan alkohol di Amerika Serikat yang justru meningkatkan konsumsi produk tersebut. Dengan demikian, upaya perang terhadap nikotin akan memiliki hasil serupa.
“Karena merokok dan penyakit yang ditimbulkan, tetap menjadi salah satu tantangan umat manusia, penting untuk mengatasinya tanpa adanya bias ideologis. Nikotin bukanlah musuh, dan kita tidak boleh melupakan hal itu,” pungkas Maria.
[quads id=8]
