Warnabiru.com – Gejala pasien Covid-19 varian Omicron pada umumnya flu dan demam.
Seperti pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang tertuang dalam laman kemkes.go.id, mengatakan sebagian besar kasus Omicron adalah OTG, asimtomatik atau gejala sakitnya ringan.
“Jadi hanya gejala pilek, batuk, atau demam yang sebenarnya bisa sembuh tanpa perlu dibawa ke rumah sakit,” kata Menkes Budi.
Sebelum beranjak ke topik bahasan, ada baiknya mengetahui perbedaan utama Omicron dengan varian sebelumnya dimana tingkat penularan lebih cepat dan banyak.
[quads id=8]
Namun untuk menuju tahapan pasien dirawat lebih lanjut dengan tingkat keparahan yang ditimbulkan, varian Omicron yang ditemui di lapangan tidak sampai seperti itu atau bisa dikatakan efek tidak seberapa mengkhawatirkan.
Mereka yang terpapar, lebih banyak melakukan isolasi mandiri di rumah, karena pasien Omicron cenderung bisa sembuh tanpa harus dirawat intensif di rumah sakit, karena memang, sejauh ini gejalanya ringan seperti batuk, pilek, serta demam.
Baca juga: Berikut Daftar Makanan Mengandung Flavonoid, Bermanfaat Untuk Mengurangi Resiko Kanker
Sekedar tahu, per tanggal 7 Februari 2022, Kemenkes melaporkan tambahan kasus harian Covid-19 di Indonesia sebanyak 26.121.
Sementara itu, kasus meninggal tercatat sebanyak 82 pasien serta pasien sembuh bertambah 8.577 orang.
Selanjutnya, pemerintah akan terus mengejar target vaksinasi ke lebih dari 208 juta penduduk Indonesia.
Data terbaru, total vaksinasi dosis 1 di Indonesia mencapai 186.870.967 atau 89,73 persen dari target sasaran.
Sementara untuk dosis 2 telah mencapai 131.540.930 atau 63,16 persen dan vaksinasi dosis lanjutan atau booster mencapai 5.679.434 orang.
Atasi Gejala Dengan Obat Kaki Lima?
Oke kembali ke laptop, eh topik bahasan, jika gejalanya disebutkan ringan, bisa tidak obat yang dijual bebas, kita beli di warung dekat rumah atau pedagang kaki lima pinggir jalan, lantas kita minum untuk mengobati gejala tersebut?
Muhammad Makky Zamzami Ketua Satuan Tugas Nahdlatul Ulama Peduli Covid-19, berujar boleh.
“Kita boleh minum obat demam, paracetamol, boleh-boleh saja,” ujarnya seperti dilansir dari laman nuonline, Selasa (8/2/2022).
Namun, jangan keburu berkata, oh begitu, karena masih ada lanjutannya sebagai jawaban atas pertanyaan yang menjadi tema judul di atas.
Apabila ada orang bergejala serta punya riwayat kontak dengan pasien Covid-19, dr Makky menyarankan orang tersebut untuk melakukan tes PCR.
“Ini penting, seseorang dengan riwayat pernah melakukan kontak dan sudah mempunyai gejala seperti pilek, namun dia merasa biasa saja, lebih baik PCR, meski orang tersebut sudah melakukan pemeriksaan antigen dan hasilnya negatif. Karena ada beberapa kasus, orang sudah divaksin lalu diperiksa antigen hasilnya negatif, ketika PCR hasilnya positif. Kalau CT value itu di atas 20, sebagian besar tidak terdeteksi melalui antigen,” tandas dr Makky.
Baca juga: Selain Berguna Untuk Menguatkan Tulang dan Gigi, Kosumsi Kalsium Efektif Meredakan Rasa Cemas
Pernyataan tersebut dipertegas oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi yang mengatakan penggunaan obat-obatan tersebut diperuntukkan sebagai penghilang gejala saja.
Jadi, tetap konsultasikan segala sesuatunya kepada ahlinya (dokter) sehingga kita yang awam tidak berjalan sendiri karena ada koridor serta aturan yang harus diikuti supaya lekas tertangani.
[quads id=8]
