Yogyakarta – Dalam sebuah kesempatan dr. Yudha Mathan Sakti, Sp. OT(K), (Dosen Departemen Ilmu Bedah, FK-KMK Universitas Gadjah Mada) pernah mengungkapkan 5 penyebab secara umum cedera tulang belakang.
Di antaranya, karena bawaan atau kongenital, infeksi, trauma (jatuh yang mengakitbatkan trauma atau cedera pada tulang belakang yang melibatkan saraf) dan suatu keganasan atau proses metabolisme.
Selain itu, dr Yudha juga mengatakan bekerja dari rumah juga berkontribusi menimbulkan tekanan lebih tinggi pada saraf tulang belakang, disebut dengan HNP orang awam seperti sobat warnabiru kerap menyebutnya dengan istilah ‘saraf terjepit’, yakni penekanan saraf tulang belakang karena rusaknya bantalan tulang belakang.
[quads id=8]
“Work from home seperti saat pandemi juga bisa menimbulkan cedera pada saraf tulang belakang. HNP atau saraf kejepit meningkat frekuensinya pada orang yang bekerja dalam posisi duduk, dimana kalo kita duduk beban itu tidak didistribusikan ke panggul atau lutut dan kaki. Jadi, 100% beban itu diterima tulang belakang, akhirnya bantalannya rusak, menimbulkan saraf kejepit,” terangnya.
Tulang belakang merupakan struktur yang vital dan kompleks. Terdiri dari 33 ruas dari pangkal kepala atau daerah leher hingga tulang ekor. Insiden lokasi terjadinya masalah tulang belakang banyak terjadi di daerah yang tidak terlalu stabil atau tidak ada struktur yang memegang dengan baik.
“Kalau kita amati saja, yang tidak dipegang dengan stabil pertama itu di leher. Kalau di daerah dada itu yang memegang ada tulang iga, jadi dia relatif stabil dan masalahnya lebih sedikit. Kedua, di daerah pinggang. Ketiga, daerah peralihan, yaitu antara leher dan tulang punggung bagian atas,” tambahnya saat menjadi narasumber Bincang-bincang Santai RAISA Radio Kamis, (24/2) seperti dilansir dari laman resmi UGM.
Lanjut lagi, salah satu struktur tulang belakang berfungsi untuk menjalankan jalur informasi antara alat gerak (kaki dan tangan) dengan pusat intruksi (otak).
“Jadi, kalau kita bilang tulang belakang, itu bukan tulangnya saja tapi juga tulang dan segala struktur yang ada di sekitarnya. Segala sesuatu yang berpotensi untuk menganggu jalannya informasi antara alat gerak dan otak bisa menimbulkan gejala oleh penderita,” ujarnya.
Disampaikan pula tanda cedera tulang belakang di antaranya nyeri anggota tubuh yang hebat, kelemahan anggota tubuh bagian atas (tangan) dan bagian bawah (kaki), nyeri disertai riwayat trauma (jatuh), nyeri disertai riwayat keganasan (tumor).
“Ketika nyerinya mengganggu dan tidak bisa berkurang dengan istirahat, harus diwaspadai dan segera memeriksakan diri ke fasilitas atau dokter ortopedi terdekat untuk dilakukan assessment bersama,” jelasnya.
Tips sederhana dari dr Yudha untuk menghindari cedera tulang belakang terutama ketika pandemi seperti saat ini.
Pertama dengan detoksifikasi handphone. Detoksifikasi bisa dilakukan dengan tidak melihat layar handphone selama dua jam. Kedua, menggunakan standing table ketika bekerja dari rumah. Ketika duduk semua beban diterima tulang pinggang, namun menggunakan standing table membuat beban didistribusikan ke panggul dan lutut. Selain itu, kita dapat memperkuat extensor mechanism tulang belakang.
“Ekstensor tulang belakang adalah otot. Jadi, coba latihan otot tulat belakang dengan stretching dan strengthening otot-otot tulang belakang,” pungkasnya.
[quads id=8]
