Selain Bupati Kutai Timur dan istrinya Inilah 5 Pasangan yang Ditangkap KPK Karena Korupsi

Sedang Populer

hery Jatmiko
kita harus tahu batasan diri kita sendiri

Bupati Kutai Timur dan istrinya tengah menjadi sorotan nasional karena terkena operasi tangkap tangan KPK di sebuah hotel Jakarta pada tanggal 2 Juni 2020. Ismunandar ditangkap bersama Encek UR Firgasih terkait dugaan suap proyek infrastruktur di Kabupaten Kutai Timur. Politik dinasti sangat kental disini karena ismunandar menjabat sebagai bupati sedangkan istrinya Encek UR Firgasih, lantas bagaimana sistem check and balance bekerja?  Penangkapan tersebut tentu menimbulkan keprihatinan sendiri.

Secara tidak langsung menggambarkan bagaimana sisi gelap politik dinasti bekerja sehingga terjadilah suap menyuap disana. Hal ini terjadi karena kecenderungannya tidak ada chek and balance disana. Karena secara tidak langsung tidak terjadi istilah oposisi dan penguasa disana dengan ruang lingkup kabupaten. Ternyata tidak hanya Bupati Kutai Timur Ismunandar dan istrinya saja yang secara bersamaan menjadi tersangka kasus korupsi. Banyak kasus korupsi lainnya yang melibatkan suami istri secara bersamaan.

BACA JUGA: KPK Tetapkan Bupati Kutai Timur Sebagai Tersangka Kasus Suap

1.Gubernur Sumatra Utara Gatot Pujo Nugroho dan Evi Susanti

http://www.gresnews.com

Gatot Pujo Nugroho pada pada tahun 2016 ditangkap oleh KPK. Dia bersama istrinya yang bernama Evi Susanto disangkakan telah melakukan penyuapan terhadap Rio Capella yang dianggap bisa melobi Jaksa Agung Prasetyo. Agar pihak kejaksaan membatalkan dirinya sebagai tersangka dalam kasus korupsi bansos 2012 dan 2013  yang tengah diusut kejaksaan. Hal itu dilakukan karena menurut Gatot Pujo Nugroho pihak Rio Capella dekay dengan Jaksa Agung Prasetyo karena sama - sama satu partai.

Selain berupaya menyuap pihak kejaksaan Gatot Pujo Nugroho juga berupaya membawa masalah ini ke PTUN. Sehingga saat dibawa ke PTUN kasus korupsi bansosnya akan dibatalkan dan terbebas dari jerat hukum. Caranya dengan menyuap hakim PTUN Medan yakni lewat perantara Pengacara OC Kaligis. Namun semua rencana itu buyar karena tercium KPK. Akhirnya setelah proses di persidangan Gatot Pujo Nugroho divonis 3 tahun penjara . Sedangkan istrinya Evy Susanti divonis penjara selama 2 tahun 6 bulan. Begitu pula dengan nasib OC Kaligis karena saat anak buahnya yang bernama Gary akan menyerahkan amplop senilai 5.000 dolar Amerika keburu ditangkap KPK. Pengacara kondang ini dijatuhi putusan penjara selama 10 tahun. Kemudian setelah kasasi turun menjadi 7 tahun.

BACA JUGA:  Tanggapan MA Terkait Pernyataan KPK yang Menyatakan MA Sering Memotong Hukuman Penjara Koruptor

2.Walikota Cimahi Atty Suharti dan suaminya Itoc Tochija

news.detik.com

Pada tanggal 1 Desember 2016 saat Pilkada Cimahi 2017. Pihak KPK menangkap Walikota Cimahi Atty Suharti dan suaminya Itoc Tochija. Penangkapan yang dilakukan di kediaman rumah pasangan suami istri itu. Terkait dengan penerimaan suap sebesar Rp 500 juta terkait proyek pembangunan Pasar Atas Cimahi tahap II senilai Rp 57 miliar. Uang suap itu diberikan oleh pengusaha atas nama Twiswara Dhanu Brata. Kedua pasangan yang sama - sama pernah merasakan jadi Wali Kota Cimahi ini disidang di PN Bandung. Mereka dianggap melanggar Pasal 12 huruf a UU Tipikor jo Pasal 55 ayat 1 ke 2 KUHP jo Pasal 64 ayat 2 KUHP. Untuk Walikota Cimahi Atty Suharti divonis empat tahun sedangkan suaminya mendapatkan vonis tujuh tahun penjara. Yang tragis sang suami sekaligus mantan Walikota Cimahi yakni Itoc Tochija meninggal saat menjalani masa hukuman penjara tersebut.

3.Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti dan istrinya Lilly Madari

://www.goriau.com/

Pada tanggal 1 Januari 2018 Pengadilan Negeri Bengkulu menjatuhkan hukuman kepada Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti dan istrinya Lilly Madiri dengan penjara 8 tahun dan denda Rp 400 juta. Vonis itu dijatuhkan setelah keduanya diketahui tertangkap tangan KPK menerima suap sebesar Rp 1 miliar dari seorang kontraktor. Vonis itu disambut dengan kevencian oleh para pendukung gubernur tersebut yang mayoritas para ibu rumah tangga. Selain vonis penjara selama 8 tahun kedua pasangan suami istri juga dicabut hak politiknya selama dua tahun.

Berawal dari adanya proyek pembangunan Jalan TES - Muara Aman, Kabupaten Rejang Lebong. Dengan nilai proyek Rp 37 miliar. Serta proyek peningkatan jalan Curug Air Dingin Kabupaten Rejang Lebong sebesar Rp 16 miliar. Dalam proyek itu Gubernur Ridwan Mukti mendapatkan fee sebesar Rp 1 miliar dari PT Statika Mitra Sarana. Uang suap itu diberikan kepada istri Ridwan Mukti sebagai perantara. Karena PT Statika Mitra Sarana menang dalam tender proyek tersebut. Namun saat proses suap itu datang KPK dan meringkus mereka.

BACA JUGA:  Pelaku Order Fiktif Paket Parabola dan Pisang Satu Truk di Kendal Ditangkap

4.Bupati Empat Lawang Budi Antoni Al Jufri dan istrinya Suzana Budi Antoni

/www.tribunnews.com

Pada awal Oktober 2013 publik dihebohkan dengan penangkapan Ketua Mahkamah Konstirusi, Akil Mochtar. Penangkapan yang dilakukan di rumah Akil Mochtar kontak membuat publik terhenyak. Karena Akil Mochtar bermain dalam sengketa Pilkada yang dia tangani saat menjadi ketua MK. Salah satunya Bupati Empat Lawang Budi Antoni Aljufri dan istrinya Suzana Budi Antoni. Saat itu Budi Antoni Aljufri kalah dalam Pemilu Bupati Empat Lawang periode 2013 - 2018.

Hanya kalah beberapa persen saja membuat Budi Antoni Aljufri mengajukan hal ini ke Mahkamah Konstitusi. Akhirnya Bupati Empat Lawang Budi Antoni Aljufri dan istrinya Suzana Budi Antoni datang secara langsung ke Jakarta. Mereka menghubungi Muhtar Ependy yang merupakan anak buah Akil Mochtar. Dengan janji akan dimenangkan dalam sengketa Pilkada itu asal disuap sebanyak Rp 10 miliar. Gayung bersambut Bupati Empat Lawang Budi Antoni Aljufri dan istrinya Suzana Budi Antoni setuju. Namun kebahagiaan mereka sirna setelah tertangkapnya Akil Mochtar. KPK mengembangkan penyelidikan tentang Akil Mochtar. Ditemukanlah benang kusut tentang suap yang dilakukan pasangan suami ini.  Akhirnya mereka divonis 4 tahun penjara dan denda Rp 150 juta oleh hakim Tipikor.

5.Walikota Palembang Romi Herton dan istrinya Masyito

metrobali.com

Masih terkait dengan Akil Mochtar yang ditangkap KPK pada tahun 2013. Kemudian KPK melakukan penyelidikan terhadap kasus - kasus sengketa Pilkada yang ditangani Akil Mochtar. Hasilnya ditemukan indikasi suap kepala daerah kepada Akil Mochtar yakni Walikota Palembang Romi Herton dan istrinya Masyito. Pilkada Walikota Palembang 2008 - 2013 adalah awal masalah ini. Saat itu Romi Herton dan Eddy Santana maju sebagai salah satu kandidat oleh KPU dinyatakan bahwa kubu Romi Herton kalah 12 suara. Kubu lawan 316.923 sedangkan kubu Romi Herton mendapatkan 316.915.

BACA JUGA:  Mahasiswa Jalur Mandiri Universitas Brawijaya Capai 50 Persen Atau 8.570 orang

Kemudian Romi Herton dan istrinya pergi Jakarta untuk menyuap Akil Mochtar agar dimenangkan dalam sengketa di MK itu. Oleh Masyitoh dikirimlah yang sebesar Rp 7 miliar lewat perantara suap Akil Mochtar. Hasilnya Romi Herton ditetapkan sebagai pemenang dan lawannya dipecundangi. Setelah penyelidikan KPK mengendus aroma suap - menyuap tersebut. Akhirnya pasangan itu dicokok KPK dan dimeja hijaukan. Hasilnya Romi dihukum 6 tahun dan istrinya dipenjara selama 4 tahun. Mereka didakwa melakukan perbuatan korupsi dan memberikan keterangan tidak benar di pengadilan. Yakni Pasal 6 ayat 1 huruf UU RI Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Korupsi. Kelak dalam masa pemenjaraannya ini Romi bernasib sama dengan Akil Mochtar yakni meninggal dunia saat dipenjara.

- Advertisement -

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Berita Terbaru

Sedang Populer