Polisi yang Diduga Melecehkan Tiga Polwan di Selayar Ternyata Tersandung Kasus Pemerasan

/www.rctiplus.com

Warnabiru.com - Pihak Polisi Daerah (Polda) Sulawesi Selatan tengah menyelidiki dugaan pelecehan terhadap polwan yang dilakukan oleh Kasat Reskrim Polres Kepulauan Selayar, yang berinisial AM.

Dilansir dari kompas.com ternyata selain masalah pelecehan terhadap tiga polwan yang dilakukan dengan verbal, AM juga tersandung kasus pemerasan.
Hal ini dijelaskan oleh korban yang bernama Rasman.

Pria yang bekerja sebagai kontraktor di Kepulauan Selayar, Sulwesi Selatan, itu menceritakan kisahnya. Saat itu adiknya ditahan polisi pada Juli 2018 atas tuduhan korupsi di salah satu kecamatan di Selayar.

Saat adiknya ditahan itulah dia diperas oleh AM yang saat itu menjabat sebagai Kasat Reskrim. Modusnya bila adiknya tidak ditebus dengan uang dia akan disiksa.

"Jadi adik saya itu ditahan karena korupsi proyek kantor camat. Kalau saya tidak beri uang yang diminta AM maka adik disiksa." Ucap Rasman.
Selain melakukan pemerasan dia juga sering diteror AM dengan kalimat - kalimat intimidasi.

"Kalimat tenggelam ini berulang - ulang dikirim AM di Whatsapp, sehingga setiap kali keluar saya merasa terancam dan terganggu mental. Padahal saya tidak punya masalah apa - apa dengannya," ungkap mantan kontraktor tersebut.

Akibat pemerasannya iu dia tidak memiliki tempat tinggal. Karena dia dimintai sejumplah barang yakni satu sepeda motor, satu kapling tanah, yang Rp 25 juta dan biaya menginap di hotel sebesar Rp 3,3 juta. Atas dasar itu dia melaporkan perbuatan tersangka ini ke pihak yang berwajib. Untuk mengharap keadilan.

Saat ini AM sendiri sudah menjadi tersangka. Hal tersebut dibenarkan oleh Kapolres Selayat AKBP Temmangnganro Machmud. "Saat ini sudah tahap satu penyidikan di Kejaksaan. Selain itu juga disita barang bukti (sepeda) motor," ucap AKBP Temmangnganro.

AM sendiri namanya mencuat setelah tiga polwan merasa dilecehkan secara verbal oleh AM. Akibatnya AM dinonaktifkan sementara dari jabatannya selama kasus tersebut ditangani oleh penyidik Reskrim Polda Sulawesi Selatan dan pihak Propam.