Bireuen, Aceh – Pengungsi Rohingya yang terdampar di Desa Alue Buya Pasie Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen, Aceh, mendapatkan perawatan medis mulai dari tes Covid -19 dan lainnya.
Hal tersebut disampaikan Dwi Anisa Prafitria Communication Associate, Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi atau United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) Indonesia dalam keterangan tertulisnya, Minggu (6/3).
[quads id=8]
“Selain tes Covid -19 kami juga lakukan pemeriksaan medis lainnya, karena kesehatan para pengungsi yang utama,” kata Dwi Anisa Prafitria seperti dilaporkan infopublik.
Disebutian jika 114 warga etnis Rohingya kembali terdampar di wilayah pantai Kuala Raja Desa Alue Buya Pasie Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen, sekitar pukul 02.00 WIB, Minggu (6/3/2022). Terdiri dari 68 pria dewasa dan 21 perempuan dewasa serta 35 anak-anak.
Menurut Dwi, para pengungsi ditempatkan di salah satu mushala oleh masyarakat setempat.
Saat ini staf UNHCR sudah berada di lokasi pengungsian dan terus melakukan koordinasi dengan semua pihak terkait yang ada di Aceh untuk penanganan selanjutnya.
Sebagai tindakan awal, UNHCR segera melakukan pemeriksaan Covid -19 sesuai dengan protokol yang berlaku.
“Jika nantinya ada yang hasil tesnya positif Covid-19 akan dikarantina secara terpisah,” ujar Dwi.
Tak hanya pemeriksaan kesehatan, UNHCR juga menyediakan beberapa bantuan lain untuk kebutuhan para pengungsi Rohingya tersebut seperti makanan, air minum, dan obat-obatan.
[quads id=8]
Mengenai pemindahan pengungsi, pihaknya masih berkoordinasi dengan pihak terkait, sembari menunggu hasil tes Covid-19 para pengungsi keluar.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi menyebut Myanmar adalah rumah bagi etnis Rohingya, yang sejak 2017 terpaksa menyelamatkan diri dari Rakhine State untuk menghindari kekerasan oleh militer negara itu.
Kini diperkirakan lebih dari satu juta warga Rohingya mendiami kamp-kamp pengungsi di Cox’s Bazar, Bangladesh, dan banyak di antara mereka melakukan migrasi ilegal melalui laut ke negara-negara tetangga, termasuk Indonesia.
“Oleh karena itu, Indonesia mendesak agar Myanmar, dengan bantuan negara ASEAN, dapat menyelesaikan akar permasalahan dengan tujuan agar repatriasi dapat dilakukan secara sukarela, aman dan bemanfaat,” papar Retno.
[quads id=8]
