Palangka Raya – Mungkin hingga saat ini masih ada yang bingung, bagaimana menuliskan Palangka Raya yang benar, harus dipisah atau digandeng jadi Palangkaraya?
Sebelum sampai ke pembahasan, ada baiknya ‘pemanasan’ dulu dengan mengetahui secara singkat tentang profil Palangka Raya.
Kota yang didirikan Presiden pertama Indonesia Ir Sukarno pada tahun 1957 tersebut secara geografis terletak pada 113˚30`- 114˚07` Bujur Timur dan 1˚35`- 2˚24` Lintang Selatan.
[quads id=8]
Laman palangkaraya.go.id menulis luas wilayahnya sebesar 2.853,52 Km2 (267.851 Ha) dengan topografi terdiri dari tanah datar dan berbukit dengan kemiringan kurang dari 40%.
Wilayah administrasi, Kota Palangka Raya terdiri dari 5 wilayah Kecamatan yaitu Kecamatan Pahandut, Sabangau, Jekan Raya, Bukit Batu dan Rakumpit yang terdiri dari 30 Kelurahan.
Balik lagi soal penulisan, Sabran Achmad, salah satu tokoh masyarakat Dayak yang juga pendiri Provinsi Kalteng, Jumat 7 Juli 2017, saat diwawancarai laman liputan6 menjelaskan, kata Palangka dan Raya punya arti tersendiri.
Palangka dalam bahasa Dayak Ngaju merupakan tempat, wadah atau piring orang Dayak menaruh sesaji sedangkan Raya artinya besar atau luas.
“Jadi secara harafiah Palangka Raya berarti tempat tinggal yang besar atau luas. Palangka Raya itu penulisannya harus dipisah, bukan disambung, karena mempunyai arti yang berbeda pula,” papar Sabran.
[quads id=8]
Mantan Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng itu menjelaskan, nama Palangka Raya sudah ada sejak zaman dulu, dan dipilihnya Palangka Raya sebagai ibu kota provinsi oleh Presiden pertama Indonesia Ir Sukarno juga punya makna.
“Kenapa dulu Bung Karno memilih Palangka Raya sebagai Ibu Kota Kalteng, bukanya Sampit atau Pangkalan Bun? Itu semua ada maksudnya,” tandas Sabran, waktu artikel diunggah, salah satu tokoh yang masih ada, saat Bung Karno melakukan peletakan batu pertama pendirian Kota Palangka Raya pada 17 Juli 1957 silam.
Palangka Raya yang letaknya di tengah Provinsi Kalteng dipilih agar masyarakat dari segala penjuru bisa dengan mudah menemui pemimpinnya di Palangka Raya.
Karena saat itu jalur transportasi hanya melalui sungai, maka Bung Karno meletakkan batu pertama di sebuah bukit di pinggir Sungai Kahayan.
“Ini maksudnya agar tugu tadi juga berfungsi sebagai semacam mercusuar bagi kapal yang melintasi Sungai Kahayan. Jadi, bukan tanpa alasan Bung Karno saat itu memilih Palangka Raya sebagai ibu kota Kalteng,” pungkas Sabran.
[quads id=8]
