Warnabiru.com – Dalam rangka unjuk rasa menentang kemenangan Presiden Belarus, Alexander Lukhashenko atas pesaingnya Svetlana Tikhnavskaya di Pemilu Belarus silam. Ratusan wanita ditangkap polisi anti huru hara saat mereka berunjuk rasa di ibu kota Belarus, Minsk, pada 19 September 2020.
Dilansir dari The Guardian unjuk rasa bertema “Sparkly March” ini para unjuk rasa wanita menggenakan aksesoris mencolok dan membawa bendera merah putih. Para demonstran wanita ini meneriakkan yel – yel yang berisi slogan anti Presiden Alexander Lukhashenko.
Yang menarik terdapat slogan bertuliskan
“Protes kami berwajah perempuan,” dimana slogan tersebut merupakan judul buku populer di Belarus. Karena mendapatkan hadiah Nobel dengan penulis Svetlana Alexievich.
Sekaligus penulis penulis itu adalah salah satu kelompok oposisi menentang kepemimpinan Presiden Belarus, Alexander Lukhashenko.
Para demonstran perempuan ini diseret kemudian dibawa ke mobil saat mereka saling bergandengan tangan. Karena terlalu banyak unjuk rasa perempuan yang ditahan membuat mobil pengangkut kehabisan ruangan. Paling tidak terdapat 328 wanita yang ditahan dalam unjuk rasa tersebut.
Seperti diberitakan sebelumnya Secara resmi Presiden Belarus, Alexander Lukhashenko, meminta bantuan kepada Presiden Vladimir Putin pada Senin, 14 September 2020.
bantuan Presiden Vladimir Putin penting bagi Presiden Alexander Lukhashenko. Karena bantuan ekonomi dan militer dari Rusia dapat menstabilkan kekuasaannya di Belarus.
Dengan bantuan ekonomi diharapkan dapat meminimalisir bentuk protes rakyat kepada Presiden Alexander Lukhashenko, yang kemudian ditunggangi para kaum oposisi.
Bentuk bantuan ekonomi dari Rusia adalah merestrukturisasi hutang dan mendukung sistem perbankan Belarus. Bahkan dengan dominasi ekonominya di Belarus ada rencana Rusia untuk melakukan mata uang gabungan.
Bentuk bantuan militer dari Rusia adalah membentuk pasukan polisi cadangan di perbatasan Rusia dengan Belarus atas permintaan Presiden Alexander Lukhashenko. Dimana pasukan polisi cadangan ini akan dikerahkan apabila diperlukan.
Hal itu dilakukan pasca kondisi keamanan di Belarus dalam keadaan berbahaya. Karena di berbagai kota banyak terjadi demonstrasi menolak hasil Pemilu yang dianggap curang.
Dalam pemilihan presiden (pilpres) antara petahana Presiden Alexander Lukashenko melawan Svetlana Tikhnavskaya ini dimenangkangkan oleh Presiden Alexander Lukashenko.
Dimana presentase kemenangan presiden yang sudah berkuasa dari tahun 1994 itu adalah 80 %. Oposisi yang sudah muak dengan gaya kepemimpinan otorites Presiden Alexander Lukashenko menolak hasil pemilu itu dan mengadakan demonstrasi dimana – mana.
Hasilnya demonstrasi yang terjadi dari awal Agustus 2020 ini berakhir ricuh. Banyak para demonstran yang ditangkap oleh pihak kepolisian karena aparat bersikap represif. Bahkan demonstransi yang terjadi di kota – kota Belarus ini sudah berjalan selama sebulan.
Pihak pemimpin oposisi Svetlana Tikhnavskaya sendiri menyelamatkan dirinya dengan melarikan diri ke Lithuania pada Selasa 11 Agustus 2020. Dia adalah simbol perlawanan melawan Presiden Alexander Lukashenko, sekaligus lawan saat di Pilpres Belarus 2020.
