Pilpres di Belarus Berujung Ricuh

//islamtoday.id

Warnabiru.com - Kondisi keamanan di Belarus kini dalam keadaan berbahaya. Karena di berbagai kota banyak terjadi demonstrasi menolak hasil Pemilu yang dianggap curang. Dalam pemilihan presiden (pilpres) antara petahana Presiden Alexander Lukashenko melawan Svetlana Tikhnavskaya ini dimenangkangkan oleh Presiden Alexander Lukashenko.

Dimana presantase kemenangan presiden yang sudah berkuasa dari tahun 1994 itu adalah 80 %. Oposisi yang sudah muak dengan gaya kepemimpinan otorites Presiden Alexander Lukashenko menolak hasil pemilu itu dan mengadakan demonstrasi dimana - mana.

Hasilnya demonstrasi yang terjadi dari awal Agustus 2020 ini berakhir ricuh. Banyak para demonstran yang ditangkap oleh pihak kepolisian. Aparat polisi menggunakan peluru karet dan gas air mata. Sedangkan demonstran melawan dengan lemparan batu.

Banyak laporan tentang sikap represif aparat kepolisian terhadap para demonstran yang tertangkap. Diidentifikasikan para demonstran yang tertangkap sekitar 6.700 orang. Banyak laporan dari demonstran yang meninggalkan penjara.

Seperti harusnya satu sel diisi dengan delapan orang ternyata diisi oleh limapuluh orang. Pemukulan terhadap demonstran yang dilakukan tanpa pandang bulu. Hingga tidak adanya upaya pengobatan bagi mereka yang terluka.

Bahkan seorang wartawan dari BBC berhasil merekam sebuah suara jeritan yang menggambarkan penyiksaan di gedung penjara Okrestina. Kemudian rekaman itu diviralkan lewat Twitter.

Pihak pemimpin oposisi Svetlana Tikhnavskaya sendiri menyelamatkan dirinya dengan melarikan diri ke Lithuania pada Selasa 11 Agustus 2020. Dia adalah simbol perlawanan melawan Presiden Alexander Lukashenko. Karena suaminya yang seorang blogger ditahan pihak pemerintah Belarus. Sehingga dia sangat vokal menentang kepemimpinan Presiden Alexander Lukashenko.

Alasan utama mengapa Svetlana Tikhnavskaya melarikan diri ke Lithuania karena negara itu adalah anggota NATO. Sedangkan petahanan Presiden Alexander Lukashenko adalah pemimpin tulen yang pro Rusia. Sehingga dengan keberadaan Svetlana Tikhnavskaya di Lithuania akan aman, tanpa gangguan kaki tangan Presiden Alexander Lukashenko .

Kedekatan Presiden Alexander Lukashenko dengan Rusia ditunjukkan dengan pemberian selamat Presiden Rusia Vladimir Putin atas kemenangan  Presiden Alexander Lukashenko yang merupakan sekutu lamanya.

Menanggapi demonstran yang berakhir ricuh itu pihak  Presiden Alexander Lukashenko menyatakan bahwa mereka diadu domba oleh pihak asing. "Kami merekam telepon dari luar negeri. Ada panggilan dari Polandia, Inggris dan Republik Ceko, mereka mengarahkan - maaf - domba kami," ucap Presiden Alexander Lukashenko.