Brigjen Prasetijo Mencecar Anak Buahnya Terkait Perintah Membakar Surat Jalan Djaka Tjandra

Detik.com

Warnabiru.com - Terdapat hal menarik terkait pelarian Djoko Tjandra yang disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa, 10 November 2020. Dilansir dari detik.com saat Brigjen Prasetijo Utomo mencercar Kompol Jhony Andrijanto terkait perintah membakar surat kalan palsu Djoko Tjandra.

"Ini soal bakar surat penting buat saya, kamu bangga ya ? Bakar barang bukti ? Atau surat ?," tanya Brigjen Prasetijo Utomo.

Kompol Jhony Andrijanto menjawab tidak bangga. Kemudian ditanya lagi oleh Brigjen Prasetijo Utomo.

"Kirain bangga. Dari tadi kayanya bangga kamu sadar nggak kalau kamu yang bakar ," tanya Brigjen Prasetijo Utomo.

"Sadar," jawab Kompol Jhony Andrijanto.

"Kenapa dibakar ?" Tanya Brigjen Prasetijo Utomo.

"Perintah jendral," jawab Kompol Jhony Andrijanto.

Kemudian Brigjen Prasetijo Utomo bertanya lagi dengan apa perintah yang dia berikan.

"Menggunakan apa saya perintahkan ?," tanya Brigjen Prasetijo Utomo.

"Lewat WA (Whatsaap)," jawab Kompol Jhony Andrijanto.

"Wa apa ? HP apa ? Saya nggak tahu," kilah Brigjen Prasetijo Utomo.

"Telepon. HP jendral yang biasa hubungi saya,"Tutur Kompol Jhony Adrijanto.

Terkait hal tersebut dengan tegas Brigjen Prasetijo Utomo menolak pernyataan Kompol Jhony Adrijanto.

"Saya tidak pernah menghubungi itu, jangan kamu buat fitnah disini," ucap Brigjen Prasetijo Utomo.

"Terima kasih Pak Jhony, Anda sudah bantu saya, atau terbalik saya bantu membina anda di biro PPNS, terima kasih sudah jadi pengkhianat," pungkas Brigjen Prasetijo Utomo.

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya pada Senin 27 Juli 2020 pihak kepolisian menetapkan Brigjen (Pol) Prasetijo Utomo sebagai tersangka. Karena terkait kasus pelarian Djoko Tjandra yang merupakan buronan korupsi atas kasus hak tagih Bank Bali.

Brigjen (Pol) Prasetijo Utomo yang saat saat itu dirawat di rumah sakit dijerat pasal 263 ayat (1) dan (2) KUHP ko Pasal 55 ayat 1 ke-1e KUHP. Pasal tersebut diberlakukan karena Brigjen (Pol) Prasetijo Utomo menerbitkan surat jalan untuk Djoko Tjandra sehingga digunakan Djoko Tjandra untuk kembali ke Indonesia.

Saat itu dia mengajukan peninjauan kembali ke Pengadilan Jakarta Selatan yang membuat geger publik sebab dia berstatus buron Kejaksaan Agung.

Tidak hanya itu Brigjen (Pol) Prasetijo Utomo juga dijerat pasal 426 KUHP yang berisi membiarkan atau melepaskan atau memberi pertolongan orang yang melakukan kejahatan.

Sebab dengan surat jalan darinya membuat Djoko Tjandar leluasa datang ke Indonesia untuk mengurus peninjauan kembalinya di pengadilan.

Brigjen (Pol) Prasetijo Utomo juga dijerat pasal 221 ayat (1) dan (2) yang berisi jerat hukum bagi pihak menghalangi penyelidikan dengan menghilangkan barang bukti. Karena Brigjen (Pol) Prasetijo Utomo terbukti menyuruh Kompol Joni Andriyanto membakar surat jalan yang sudah digunakan oleh Djoko Tjandra.

Setelah ditetapkan sebagai tersangka karena membantu pelarian Djoko Tjandra pihak Brigjen (Pol) Prasetijo Utomo juga dicopot jabatannya sebagai Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan PPNS Bareskrim Polri.

Dalam persidangan tersebut passca mendengarkan tuntutan dari JPU pihak Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur menegur tersangka Brigjen Prasetijo Utomo. Karena dalam sidang itu dia menggunakan seragam kepolisian.

"Saudara dalam pakaian yang tidak dengan jabatan, karena warga negara Indonesia sama kedudukannya dalam hukum, sehingga di persidangan depan diharapkan untuk berpakaian seperti yang lain," tegur Hakim Ketua Muhamad Siraid.

Namun dalam persidangan ini majelis hakim memberikan toleransi kepada Brigjen Prasetijo Utomo.

"Hari ini diberi toleransi. Diharapkan hari berikutnya persidangan kita saudara dalam pakaian yang tidak dengan jabatan, pakaian jabatan," ucap Hakim Ketua Muhamad Siraid