Sebelum menggantikan Shinzo Abe yang berkuasa selama delapan tahun di Jepang. Yoshihie Suga adalah sekretaris kabinet sekaligus tangan kanan perdana menteri.
Pasca pengukuhannya sebagai perdana menteri, Yoshihie Suga mempunyai dua agenda utama. Yakni masalah penanganan Covid-19 dan membangkitkan ekonomi Jepang yang terpuruk akibat Covid-19. Hal tersebut dilakukan karena Jepang salah satu negara yang terdampak dari Covid-19.
Dalansir dari cnbcindonesia.com pertumbuhan ekonomi Jatuh ke wilayah negatif. Karena output perekenomiannya minus sebanyak 1,8 persen.
Bahkan dalam PDB Jepang menyusut hingga 9,9 persen. Hal tersebut membuat Jepang jatuh ke jurang resesi. Akibatnya angka pengangguran di Jepang menjadi naik secara signifikan.
Terkait memburuknya ekonomi akibat dampak Covid ini. Menjadikan PM Yoshihie Suga harus bekerja ekstra keras. Terdapat dua masalah utama mengapa membangun kembali ekonomi di Jepang cukup sulit. Yakni membengkaknya jumplah hutang dan meningkatnya usia lansia di Jepang.
Karena lansia di Jepang sendiri populasinya menjadi 28 % dari populasi di Jepang. Hal tersebut berakibat menurunnya angka profuktifitas di Jepang.
Dampak naiknya dari populasi lansia di Jepang membuat Jepang harus menggangarkan 34 % anggaran dari APBN mereka untuk mengurusi masalah pensiun dan asuransi kesehatan.
Karena anggaran cukup besar bahkan mengalami defisit anggaran membuat Jepang harus menutupinya dengan hutang. Akibatnya hutang Jepang naik hingga 236,6 % dari output perekonomiannya.
Naiknya hutang akibat mengurusi masalah pensiunan dan asuransi kesehatan bagi para lansia ini dianggap cukup mengkhawatirkan. Sebab pemerintah terus menjual surat utangnya.
Hal ini ditakutkan Jepang semakin jatuh ke jurang resesi.
Ketergantungan Jepang terhadap surat utangnya dianggap memprihatinkan karena mencapai angka 46 %. Tidak heran untuk membayar hutangnya ini pemerintah Jepang harus merogoh saku sekitar 8,8 yen atau setara USS 84 miliar.
Tidak heran anggaran sebesar itu digunakan hanya untuk sektor tidak produktif. Sehingga dibutuhkan reformasi struktural agar anggaran tersebut bisa diserap untuk sektor yang produktif. Caranya yakni memangkas belanjanya, namun ada resiko kebijakan ini pasti membuat penguasa tidak populer.
Salah satu solusinya yang juga tidak populer adalah menaikkan pajak konsumsi hingga 30 % untuk membantu mendanai program pensiun dan jaminan sosial. Tahun lalu mantan PM Shinzo Abe berupaya menaikkan pajak konsumsi dari 8 % ke 10 % yang tidak ayal membuat namanya tidak populer. Dilema dari menaikkan pajak konsumsi pada dasarnya malah melemahkan daya beli konsumsi itu sendiri.
Pada akhirnya dibutuhkan langkah tegas dalam mengambil keputusan dan pemahaman yang komprehensif dan holistis PM Yoshihie Suga agar bisa membangkitkan ekonomi Jepang dari jurang resesi ini.
Seperti yang sudah diberitakan dengan alasan kesehatan yang semakin menurun Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, mengumumkan pengunduran dirinya sebagai perdana menteri pada Jumat, 28 Agustus 2020.
Mantan perdana menteri yang berusia 65 tahun itu sudah lama diagnosa peradangan usus besar. PM Shinzo Abe sendiri menjabat sebagai Perdana Menteri sejak 26 Desember 2006.
Selama kepemimpinannya di Jepang dia dianggap sosok yang konfrontatif terhadap negara Asia Timur lainnya. Seperti Korea Utara, China dan Korea Selatan. Dia juga salah satu pihak yang menolak mengamandemen hukum Jepang yang memberi peluang tahta Kaisar Jepang diduduki perempuan.
Selain itu PM Shinzo Abe dianggap kontroversial karena berkunjung ke Kuil Yasukuni. Hal itu dianggap hal kontroversial sebab di dalam kuil dimakamkan para penjahat perang Jepang yang melakukan kejahatan perang saat Perang Dunia II. Disana terdapat 14 orang yang dinyatakan sebagai penjahat perang Kelas A dalam Perang Dunia II.
Yang cukup mengguncang nama PM Shinzo Abe adalah skandal dokumen penjualan lahan. Dimana dalam pembelian tanah milik negara itu dilakukan oleh pengelola sekolah yang mengaku dekat dengan PM Shinzo Abe. Sehingga seseorang tersebut dilaporkan membeli harga tanah negara itu dengan harga di bawah pasar.
