Warnabiru.com – Karena dianggap tidak mampu menanggulangi demonstrasi di Thailand yang menuntut pengunduran diri PM Thailand Prayuth Chan o Cha dan reformasi kerajaan. Akhirnya PM Thailand Prayuth Chan o Cha mencabut status keadaan darurat di Thailand.
Yang menjadi banyak sorotan saat demonstran meminta agar dikuranginya peran kerajaan di berbagai sektor pemerintahan Thailand. Dimana raja Thailand saat ini adalah Raja Maha Vajiralongkron yang menggantikan ayahnya pada 13 Oktober 2016.
Namun raja ini cenderung tidak populer seperti ayahnya Raja Bhumibol Adulyadej yang meninggal dunia pada tahun 2016.
Sebelum Raja Bhumibol Adulyadej meninggal dunia tahun 2014. dirinya adalah raja populer di mata rakyat Thailand. Karena sikapnya yang humanis dan menerima segala kritik. Dibuktikan dengan ucapannya yang mengatakan.
“Saya tidak takut jika kritik itu menyangkut kesalahan saya. Raja bisa melakukan kesalahan,”
Namun hal itu berbeda dengan anaknya Raja Maha Vajiralongkron. Salah satu tindakan tidak populernya adalah saat dirinya melakukan isolasi mandiri dari Virus Corona di Grand Hotel Sonnenbichl, Kota Garmich-Partenkirchen, Jerman.
Raja berusia 67 tahun itu dilaporkan mengisolasi diri bersama 20 selirnya. Tentu tindakan raja yang bergelar Rama X ini membuat rakyat Thailand marah.
Tidak heran saat kepulangannya ke Thailand dirinya disambut dengan 10.000 pengunjuk rasa.
Saat mobil kerajaan yang membawanya yakni Rolls-Royce ke istana banyak para demonstran melecehkannya. Yang kemudian disikap oleh Raja Maha Vajiralongkron dengan memberlakukan keadaan darurat.
Kisah cinta Maha Vajiralongkron juga tidak kalah kontroversial. Dirinya sudah melakukan perkawinan sebanyak tiga kali hingga mempunyai tujuh anak. Dimana salah satu selirnya yang bernama Sineenat Wongwajirapakdi dipenjara oleh meski menikah baru tiga bulan.
Alasan pemenjaraan selir yang bertugas sebagai pilot pengawal kerajaan itu karena diduga tidak setia dan berambisi menyamai posisi ratu.
Posisi Raja Thailand sendiri cukup kuat. Karena adanya undang – undang bagi mereka yang menghina anggota Kerajaan Thailand atau lebih dikenal sebagai Lese Majeste Law. Dimana hukum ini adalah hukum cukup keras karena sesuai pasal 112 dijelaskan siapa mereka yang menghina raja, ratu dan putra mahkota akan dipenjara selama 15 tahun.
Lese Majeste Law sudah diberlakukan cukup lama yakni sejak tahun 1908. Sayangnya pasal 112 bersifat karet karena tidak dijelaskan bentuk hinaan seperti apa yang bisa dipenjarakan. Sehingga tidak heran polisi terkesan brutal terhadap mereka yang dianggap menghina raja.
Dilansir dari tribunnews.com Raja Maha Vajiralongkron ini dikenal sebagai pribadi yang manja. Ditunjukkan di usia 12 tahun dirinya tidak bisa mengikat tali sepatunya karena sikap manjanya yang biasa dilayani di istana.
Dirinya juga dikenal sebagai pribadi aneh karena mengangkat seekor anjing bernama Foo Foo menjadi Marsekal Kepala Udara pada tahun 2007. Konyolnya anjing pudel itu disertakan di sebuah acara kenegaraan.
Hal itu dijelaskan oleh Duta Besar Amerika Serikat yang bernama Ralph Boyce. Dimana anjing itu melompat ke meja hidangan dan menjilati perkakas gelas dan piring. Baik milik tamu ataupun milik Raja Maha Vajiralongkron sendiri.
Bahkan dikabarkan Raja Maha Vajiralongkron meminta salah satu selirnya untuk makan dari mangkuk Foo Foo.
Saat Foo Foo meninggal pada tahun 2015. Raja Maha Vajiralongkron memberinya pemakan selama empat dengan cara mewah.
Sikap Raja Maha Vajiralongkron juga dianggap anti kritik. Dibuktikan pada tahun 2017 seorang pria dihukum penjara 35 tahun karena mengkritisi sikap keluarga kerajaan Thailand di media sosial. Bahkan saat seorang pemuda menggunakan kaos bertuliskan sikap anti kerajaan ditangkap dan dipenjarakan.
Group Facebook yang anggotanya berisi tentang pembahasan monarki di Thailand juga diperintahkan untuk ditutup oleh pihak kerajaan. Meski dengan berat hati karena dianggap melanggar hak asasi manusia internasional akhirnya Facebook menutup akun grup tersebut.
