Klaster Penyebaran Covid-19 di Indonesia Makin Menghawatirkan

Sedang Populer

Warna Biru Media
Sumber Inspirasi dan berita terpercaya

Warnabiru.com – Secapa AD yang terletak di Kota Bandung tengah menjadi sorotan karena menjadi kluster penyebaran Virus Corona. Hal ini berawal dari perwira siswa yang memeriksakan diri atas penyakitnya ke Rumah Sakit Dustira. Sebenarnya prajurit itu tidak berkeinginan memeriksakan diri atas Covid-19 karena tidak ada gejala virus itu.
Prajurit itu hanya mengeluhkan soal bisul sehingga tubuh menjadi demam. Mengakibatkan infeksi sedangkan satu prajurit lagi mengeluhkan soal masalah tulang belakang. Ternyata setelah diswab kedua prajurit tersebut positif terpapar Virus Covid-19.

Atas temuan itu kemudian dilakukanlah rapid test seluruh siswa Secapa AD disana, kemudian hasilnya dikirimkan ke Jakarta. Hasilnya dari 1.400 alat rapid tesy sebanyak 187 dinyatakan reaktif. Kemudian dilakukan langkah berikutnya yakni tes swab menggunakan VTM untuk tes swab. Saat dilakukan tes di laboratorium PCR itulah ditemukan fakta mencengangkan. Yakni sebanyak 1.280 Secapa AD dinyatakan positif Covid-19 dengan 991 perwira siswa dan 289 staf Secapa AD baik anggota maupun keluarga.
Syukurlah para prajurit ini hanya dalam kategori ringan. Hal ini karena mereka pasien tanpa bergejala. Semoga lekas sembuh para peserta Secapa AD agar lekas bisa mengabdi kepada negara.

Membicarakan klaster penyebaran Covid-19 ternyata tidak hanya di Scapa AD. Karena beberapa tempat di Indonesia disinyalir sebagai klaster penyebaran Covid-19. Dimana klaster ini menjadi pusat penyebaran Covid-19 karena berisi interaksi orang – orang. Seperti di pasar, pabrik, pondok pesantren hingga rumah sakit sendiri.

1.Klaster pasar tradisional

Pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli dari banyak tempat. Sehingga di titik inilah terjadi interaksi dari orang – orang. Seringkali yang terjadi mereka yang positif Covid-19 tidak menyadari telah terdampak. Kemudian beraktifitas di pasar, hasilnya mereka yang negatif ikut tertular. Tidak heran atas peristiwa ini banyak petugas menghimbau agar pada pedagang menggunakan pelindung wajah atau faceshield, masker dan rajin mencuci tangan.

Apalagi terdapat fakta pasar adalah salah satu pusat ekonomi sehingga sulit ditinggalkan. Disana terjadi perputaran ekonomi hingga triliun rupiah perhari. Belum lagi banyak tenaga kerja terserap disana. Mulai dari PKL, kuli panggung, pemasok barang dan pedagang itu sendiri.

BACA JUGA:  Ratusan Polisi India Dinyatakan Positif COVID-19

Data yang diambil pada tanggal 5 Juli 2020 dari 24 provinsi dan 72 kabupaten jasilnya 833 pedagang pasar terinfeksi Covid-19. Dari jumplah tersebut DKI menyumbang jumplah paling banyyak yakni 217 positif di 37 pasar. Hasilnya sebanyak 35 pedagang meninggal dunia. Sehingga dibutuhkanlah evaluasi pengelolaan pasar bersama pedagang. Tidak heran banyaknya para pedagang yang terpapar Covid-19 membuat sebanyak 107 pasar ditutup.

Selain itu disarankan pemerintah daerah memperbanyak tes Covid-19 kepada pedagang pasar. Diperlukan pula edukasi dan sosialiasi kepada pedagang pasar. Karena memang kesadaran untuk penerapan protokol kesehatan di pasar masih rendah.
Paling tidak dari 14.000 pasar di Indonesia sebanyak 500 pasar telah melakukan rapid test. Namun dari data tersebut masih perlu dibutuhkan jumplah tes lebih banyak untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

2.Kluster perusahaan

Perusahaan juga merupakan salah satu sektor ekonomi yang penting di Indonesia. Karena di perusahaan inilah para pekerja menggantungkan hidup untuk mencari nafkah. Perkumpulan para pekerja inilah berpotensi menjadi kluster penularan Covid-19. Hal tersebut terbukti seperti yang terjadi di Semarang dan di Surabaya.

Untuk di Semarang terjadi di tiga perusahaan dimana rinciannya perusahaan A sebanyak 47 karyawan dinyatakan positif, perusahaan B sebanyak 24 orang dinyatakan positif dan di perusahaan C hampir 100 orang. Atas dasar itu kementrian kesehatan mengeluarkan regulasi tentang pencegahan dan pengendalian Covid-19 di tempat kerja, perkantoran dan industri. Seperti pembersihan secara berkala seperti pegangan tangan, menjaga sirkulasi udara, menyediakan sarana cuci tangan dan melakukan Physical Distancing.

Begitu pula dengan pabrik rokok Sampoerna di Surabaya. Dari manajemen Sampoerna telah melakukan swab mandiri yang menghasilkan 77 orang pegawai dinyatakan positif Covid-19. Diantara 12 pasien tersebut berasal dari 163 pegawai yang melakukan swab mandiri di rumah sakit Surabaya. Sebagai bentuk tanggung jawab atas hal itu PT Sampoerna mengisolasi pegawai yang positif Covid-19 itu di suatu tempat dengan pantauan tim medis. Selain itu PT Sampoerna juga memberlakukan berhenti operasi sejak tanggal 26 April 2020.

BACA JUGA:  Kriteria Isoman Bagi Anak Saat Terpapar Covid-19

3.Kluster rumah sakit

Rumah sakit juga berpotensi untuk menjadi kluster penyebaran Covid-19. Hal ini terjadi karena para tenaga kesehatan seperti dokter dan perawat terpapar pasien penderita Covid-19 yang mereka rawat. Tidak heran banyak pemberitaan tentang para tenaga kesehatan di rumah sakit Indonesia yang terpapar Covid-19. Selain itu terpaparnya para tenaga kesehatan ini karena banyak pasien datang tidak jujur. Seperti tidak jujur bila ada gejala pilek, batuk ataupun pernah kontak langsung dengan pasien positif Covid-19.

Seperti yang terjadi di RSUD Jayapura dimana sebanyak 84 tenaga medis dinyatakan positif Covid-19. Dimana lima diantaranya adalah dokter umum dan dokter spesialis. 46 diantaranya adalah bidan, perawat, 13 tenaga laboratorium dan 4 ahli gizi. Sisanya adalah tenaga administrasi, petugas administrasi dan satu petugas keamanan. Menyikapi hal itu pihak rumah sakit mengeluarkan kebijakan menggabungkan beberapa ruang pelayanan untuk rawat inap. Tapi syukurlah dari 84 tenaga medis yang positif Covid-19 sebanyak 15 orang dinyatakan sehat.

Di beberapa rumah sakit Probolinggo sebanyak 16 tenaga medis dinyatakan positif Covid-19. Tenaga medis tersebut sebagaian besar tergabung dalam klaster haji Sukolilo. untuk antisipasi hal tersebut mereka menjalani isolasi di RSUD Waluyo Jati Kraksaan dan di RSUD Tongas.

4.Kluster pondok pesantren

Pondok pesantren juga berpotensi menjadi kluster Covid-19 karena para santri saling berinteraksi disana. Seperti yang terjadi di Pondok Modern Darussalam Gontor. Setelah rapid test dinyatakan sebanyak 11 santri positif Covid-19 dari jumplah santi yang berjumplah 1.798 orang. Jumplah di atas adalah data terbaru setelah 7 santri sebelumnya dinyatakan positif Covid-19.

Hal tersebut berawal dari seorang santri dari Sidoarjo, Jawa Timur. Dia membawa surat keterangan karantina mandiri selama 10 hari yang sudah ditanda tangani wali murid. Ternyata santri itu tertular virus Covid-19 dari ayahnya namun tanpa ada gejala sakit. Setelah ayahnya diketahui positif kemudian santri tersebut dilakukan tes swab. Oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya santri tersebut dinyatakan positif Covid-19.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Rekomendasi Untuk Anda

Sedang Populer