TBC Vs Covid-19 Menurut Pakar Universitas Airlangga

Sedang Populer

Surabaya - TBC yang sering disebut orang awam dengan paru paru basah, gejala, penanggulangan mirip dengan Covid-19, bahkan daya tular sama sama tingginya.

Pernyataan tersebut disampaikan Dr Soedarsono dr SpP(K) kepada UNAIR TV Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Jumat (25/3/2022)

Jika mengacu angka mortalitas, dimana kematian akibat TBC 10,8 persen jauh lebih besar persentasenya dibanding Covid-18 2,6 persen, TBC sifatnya kronis sedangkan Covid-19 bersifat akut dan angka pasien tertingginya berada pada usia produktif.

Persentase kematian di atas berasal dari TBC tidak kebal obat. Sedangkan TBC kebal obat mencapai 18 persen.

TBC kebal obat, ketika virus Mycobacterium tuberculosis yang menjadi penyebabnya tidak mati meski terkena obat.

Disebabkan, faktor primer, ketika seseorang tertular dari pengidap TBC kebal obat, faktor sekunder pengidap TBC yang putus obat, minum obat tidak teratur yang berdampak pada mutasi virus.

Dr Soedarsono mengungkapkan, dengan adanya pandemi Covid-19 ternyata berdampak negatif pada penanggulangan TBC di Indonesia.

Karena gejala kedua penyakit ini mirip, ketika seseorang merasakan gejala TBC, malah takut pergi ke faskes, mereka khawatir nantinya dinyatakan Covid-19.

Apalagi dulu, di awal atau saat pandemi sedang tinggi tingginya, sanksi sosial di masyakarat lumayan membebani. Sehingga kebanyakan pengidap Covid-19 memilih mengobati sendiri sakitnya di rumah.

Sedangkan, pengidap TBC banyak yang enggan kontrol karena takut tertular Covid-19 hingga akhirnya menyebabkan mereka putus berobat.

Disampaikan pula, waktu itu, temuan TBC di Indonesia seakan berkurang yang sebenarnya masih banyak. Padahal, pengidap TBC harus mendapatkan pengobatan teratur agar kondisinya tidak semakin parah yang dapat menularkan kepada orang lain.

Namun, selain efek negatif, Covid-19 juga memberikan dampak positif bagi sektor penanggulangan TBC.

BACA JUGA:  Pembebasan Bersyarat John Kei Dicabut Atas Tuduhan Tersangka Pembunuhan

Di antaranya penerapan protokol kesehatan yang dapat diaplikasikan pada strategi penanggulangan TBC.

"Meski secara teori pengidap TBC punya kepekaan terhadap Covid-19, faktanya di Surabaya sendiri tidak banyak orang dengan TBC terpapar Covid-19. Kemungkinan, karena mereka, pengidap TBC, sudah terbiasa hidup dengan protokol kesehatan bahkan sebelum pandemi," tandas Dr Soedarsono

TBC pada Anak
Anak-anak dikatakan rentan terkena TBC namun dengan potensi penularan sedikit.

"Dikarenakan, anak-anak pengidap TBC jumlah virusnya lebih sedikit dibanding orang dewasa sehingga kemampuan menularkan kepada orang lain juga lebih kecil," lanjutnya.

Bebas TBC
Fakta Indonesia menjadi negara endemik TBC posisi ketiga di dunia, memang tidak menyenangkan. Untuk itu pemerintah menargetkan TBC tereliminasi pada tahun 2030.

Dan, hal tersebut dapat terjadi dengan syarat masyarakat harus mewaspadai TBC seperti mereka waspada dengan Covid-19 serta penanggulangan TBC harus melibatkan seluruh sektor layaknya penanggulangan Covid-19.

“Jika mindset serta penanganannya seperti itu, saya optimis 2030 kita bebas TBC,” pungkasnya.

- Advertisement -

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Berita Terbaru

Sedang Populer