Jerinx Walk Out di Persidangan Namun Jaksa Tetap Bacakan Tuntutan

http://www.pn-jantho.go.id/

Warnabiru.com - Dalam sidang perdananya atas kasus pencemaran nama baik Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Pihak Jerinx 'SID' menyatakan keberatan dan menolak sidang daring yang dia jalani. Karena suami dari Nora Alexandra itu mengaku haknya dirampas.

"Maaf Yang Mulia saya tetap menolak sidang secara online karena saya merasa hak - hak saya tidak diwakili sepenuhnya melalui sidang ini. Karena yang mulia tidak bisa gestur saya tidak bisa membaca bahasa tubuh saya, sehingga kemungkinan keputusan - keputusan nanti kurang tepat," ucap Jerinx melalui daring di Polda Bali, Kamis, 10 September 2020.

Namun sidang tersebut tetap dilaksanakan secara daring. Sehingga Jerinx beserta 12 kuasa hukumnya menolak pelaksanaan sidang daring tersebut. Ditunjukkan dengan sikap meninggalkan persidangan. Akibatnya sidang diskros sementara selama 15 menit oleh Ketua Majelis Hakim, Ida Ayu Adnya Dwi.

"Karena Jaksa Penuntut Umum mengupayakan menghadirkan terdakwa dan penasihat hukum dipersidangkan, maka sidang diskors 15 menit," ucap Hakim Ida Ayu Adnya Dewi di Ruang Sidang Cakra Pengadilan Negeri Denpasar.

Kemudian sidang itu tetap dilanjutkan secara teleconference diisi dengan sesi pembacaan surat dakwaan oleh Jaksa Penutut Umum.

"Dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi berupa postingan/unggahan pada akun instagram @jrxsid milik terdakwa pada 13 Juni 2020 dan 15 Juni 2020 yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) kepada IDI Bali,'' ucap Jaksa Penuntut Umum Otong Hendra Rahayu membaca surat dakwaannya.

Semakin diperberat karena Jerinx mempunyai fans baik di dalam maupun diluar negeri. akibatnya menciptakan narasi yang buruk bagi citra IDI "Bahwa terdakwa secara sengaja membuat postingan pada media instagram melalui akun @jrxsid, karena terdakwa mengetahui postingan tersebut akan mendapatkan perhatian dari masyarakat banyak dan menjadi ramai di media sosial serta memperoleh kementar yang beragam, oleh karena terdakwa adalah publik figur sebagai anggota band Superman Is Dead (SID), yang memiliki fans cukup banyak tersebar di seluruh Indonesia bahkan sampai mancanegara," ucap Jaksa Otong Hendra Rahayu.

Narasi tersebut membuat pihak IDI merasa terhina karena fitnah tersebut apalagi hal tersebut membuat masyarakat awam menjadi benci terhadap IDI

"Sehingga IDI merasa sangat terhina dan dibenci oleh sebagian masyarakat Indonesia dan dirugikan baik materiil maupun immateriil akibat dari postingan tersebut," kata Jaksa Otong.

Setelah pihak Jaksa Penutut Umum membacakan surat dakwaan. Pihak majelis hakim memerintah kepada Jaksa Penutut Umum untuk kembali menghadirkan terdakwa (Jerinx) di persidangan minggu depan, yakni Selasa, 22 September 2020.

Seperti yang sudah diketahui sebelumnya Jerinx meminta untuk menggelar sidang secara tatap muka. Dimana permintaan itu disampaikan oleh kuasa hukum Jerinx kepada Pengadilan Negeri Denpasar pada Senin, 7 September 2020.

Secara teknis pihak Jerinx menjelaskan proses sidang online akan melibatkan banyak tempat. Seperti majelis hakim akan bersidang di ruang pengadilan cakra kemudian JPU di Kantor Kejaksaan Tinggi Bali. Untuk Jerinx, saksi dan ahli di kantor kepolisian Polda Bali

Menurut pihak Jerinx pelaksanaan sidang secara daring yang dilakukan oleh pengadilan dianggap melanggar KUHP dan UUD Kehakiman. Sebab membuat Jerinx tidak mendapatkan haknya untuk pengadilan bebas dan tidak memihak. Karena dalam undang - undang dijelaskan bahwa terdakwa wajib hadir secara fisik dalam proses peradilan.

Jerinx ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Bali pada Rabu 12 Agustus 2020. Penetapan ini berdasarkan laporan atas pencemaran nama baik Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Dimana dalam statusnya di Instagram dia menyebut "Ikatan Dokter Indonesia (IDI) kacung WHO,"

Dimana Jerinx dilaporkan Ketua IDI wilayah Bali I Gede Putra Suteja tanggal 16 Juni 2020. Di laporan polisi No LP/263/VI/2020/Bali/SPKT dijelaskan bahwa Jerinx disangkakan Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik pasal 27 ayat (3) jo pasal 45 ayat (3) dan pasal 310 KUHP dengan ancaman penjara enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.