Warnabiru.com – Ledakan hebat terjadi di Beirut, Lebanon pada Selasa 4 Agustus 2020 petang hari. Pasca ledakan yang terjadi akibat ledakan 2.750 ton Amonium Nitrat di gudang pelabuhan itu. Pemerintah Libanon menerapkan masa berkabung selama tiga hari dan keadaan darurat selama dua minggu.
Dalam peristiwa itu sebanyak 135 orang tewas. Data itu diperkirakan akan bertambah mengingat proses evakuasi masih berjalan hingga saat ini. Sedangkan 5.000 korban lainnya terluka dan 300.000 orang kehilangan rumah mereka.
Banyak fakta lain terungkap dalam peristiwa ledakan Amonium Nitrat ini. Seperti kunjungan presiden Prancis disana, kematian misterius kolonel yang memerintahkan agar Amonium Nitrat dipindah hingga penetapan tersangka atas peristiwa ini. berikut fakta – fakta terbaru terkait peristiwa ledakan bom di Beirut, Lebanon, yang dirangkum dari kompas.com
1.Kunjungan Presiden Prancis, Emmanuel Macron ke Lebanon

Pasca ledakan yang setara dengan gempa berkekuatan magnitudo 3,5 ini Presiden Emmanuel Macron berkunjung ke Lebanon. Kunjungan yang dilakukan dua hari pasca ledakan ini bertujuan menghibur rakyat Lebanon.
Lebanon sendiri sebelumnya adalah wilayah kolonial Prancis. Sehingga mempunyai ikatan emosional dengan Prancis hingga saat ini. Dalam kunjungannya ini Presiden Emmanuel Macron berjanji akan menyelenggarakan konferensi untuk bantuan warga Beirut, menjanjikan tatanan pemerintahan baru yang transparan dan menjanjikan bantuan untuk Beirut tepat sasaran.
Kunjungan ini penting karena pasca ledakan pejabat tinggi Lebanon hanya mengunjungi pelabuhan yang luluh lantah. Tidak mengunjungi daerah pemukiman yang penduduknya paling terdampak.
2.Kematian misterius kolonel yang meminta Amonium Nitrat dipindahkan

Amonium Nitrat itu berasal dari kapal kargo berbendera Moldova, MV Rhosus. Kapal yang tiba di pelabuhan Beirut November 2013 itu berasal dari Rusia. Oleh pejabat pelabuhan Beirut kapal ini dilarang berlayar karena tidak bisa membayar bea pelabuhan. Kemudian para krunya dipulangkan.
Keberadaan Amonium Nitrat ini diketahui oleh Kolonel Joseph Skaf yang menjabat sebagai kepala divisi pengawasan narkoba Beai Cukai Lebanon. Pada 2017 dia meminta agar 2.750 ton Amonium Nitrat itu dipindahkan kepada pejabat pelabuhan yang berwenang.
“Kami informasikan kepada anda bahwa divisi ini menerima informasi tentang datangnya kapal Rhosus di Pelabuhan Beirut. Kapal itu memuat amonium nitrat yang biasa digunakan sebagai bahan peledak, sangat berbahaya dan menjadi ancaman bagi keselamatan masyarakat.”
Demikian tulis kolonel itu kepada pejabat berwenang.
Tidak lama setelah itu Kolonel Joseph Skaf ditemukan tewas. Terdapat dua laporan berbeda soal kematiannya. Pertama berisi bahwa dia tergelincir dari ketinggian 3 meter. Sedangkan laporan kedua memberikan penjelasan bahwa dia dianiaya kemudian dilempar. Karena saat diautopsi ditemukan luka memar di kepala.
3.Viral, foto pengelasan di pintu gudang Amonium Nitrat

Amonium Nitrat dikenal sebagai bahan peledak yang mudah meledak apabila terpapar zat panas. Dengan meledaknya Amonium Nitrat ini banyak menduga akibat kelalaian pejabat pelabuhan di Beirut. Hal tersebut memicu kemarahan warga Beirut. Karena mereka mengangap pejabat disana cenderung korup sehingga tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Apalagi setelah viralnya foto yang diunggah pada Rabu 5 Agustus 2020. Terlihat pekerja mengelas di pintu gudang Amonium Nitrat sebelum ledakan dahsyat itu terjadi. Telihat tumpukan karung amonium nitrat di dalam ruangan.
Pintu dan jendela itu cocok dengan gudang yang meledak. Selain itu adanya pekerja memakai masker menunjukkan pengelasan dilakukan baru – baru ini bertepatan dengan wabah Virus Corona.
Pihak pejabat Pelabuhan Beirut mengamini hal tersebut. Karena diminta memperbaiki pintu gudang oleh pihak keamanan. Pengelasan itu dilakukan pada siang hari. Percikan las itu diduga memicu bahan – bahan lainnya sehingga menaikkan suhu. Kemudian memicu ledakan Amonium Nitrat.
4.Lebanon menetapkan 16 tersangka dalam ledakan di Beirut

Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab berjanji akan mencari pihak yang bertanggung jawab atas ledakan ini. Secara resmi setelah beberapa hari penyelidikan pengadilan militer menahan 16 tersangka.
Yang paling berpengaruh adalah Manajer Umum Pelabuhan Beirut, Hassan Koraytem. Selain itu pihak bank juga membekukan rekening semua tersangka.
