Delapan Tahun Berperang, Inilah Daftar Negara yang Turut Berkecimpung dalam Konflik Suriah

WARNABIRU.com - Pada 2010 wilayah Timur Tengah ramai dengan fenomena Arab Spring. Fenomena ini muncul pertama kali di Tunisia kemudian menyebar ke negara di wilayah Arab sekitar. Arab Spring merupakan agenda menuntut demokratisasi di tengah pemerintahan yang sebagaian besar dipimpin secara otoriter waktu itu.

Suriah menjadi salah satu negara yang terkena percik api Arab Spring, hingga menimbulkan peperangan yang berlangsung hingga delapan  tahun lamanya. Perang atau konflik Suriah merupakan pertikaian antara warga sipil dengan pemerintah resmi Bassar Al Assad yang dimulai pada tahun 2011 – satu tahun setelah Arab Spring muncul di Tunisia.

Pemerintahan yang korup, kemiskinan, defisitnya kondisi perekonomian, dan sistem demokrasi yang buruk menjadi sebab musabab pemicu konflik Suriah. Atas dasar berbagai kondisi sosial yang terjadi, rakyat Suriah kemudian melakukan demonstrasi menuntut rezim Assad agar bertindak untuk memperbaiki keadaan.

Namun Presiden Assad tak berbuat banyak dan malah membuat kondisi semakin buruk. Puncak frustasi yang dialami masyarakat Suriah diawali dengan aksi bakar diri Hasan Ali Akleh pada 26 Januari 2011 yang diinspirasi oleh peristiwa yang sama di Tunisia.

Lalu, pada 6 Maret 2011, sekelompok anak muda melakukan aksi coret tembok dengan tulisan As Shaab Yoeed Eskaat el Nizam (rakyat ingin menumbangkan rezim). Namun, rezim Assad menanggapinya dengan tangan dingin dengan menyiksa mereka di dalam penjara.

Hal ini memicu kemarahan masyarakat,  yang belum redam setelah aksi bakar diri. Demonstrasi besar-besaran dilangsungkan dan kemudian menjalar ke seluruh penjuru negeri. Namun, sekali lagi aksi demonstrasi ini ditanggapi Assad dengan gaya ala diktaror. Ia menggunakan militer untuk membungkam gerakan dengan mengangkapi orang-orang yang disinyalir sebagai provokator.

BACA JUGA: Fakta Kontroversial Presiden Erdogan yang Menjadikan Hagia Sophia Sebagai Masjid

Hal ini menimbulkan kecaman dari dunia internasional. Alih-alih menyurut, demonstrasi yang dilakuakn masyarakat Suriah justru semakin besar dari hari ke hari. Lantas, aksi ini berubah dari yang semula menuntut rezim untuk memperbaiki kondisi sosial masyarakat, berubah menjadi upaya untuk menggulingkan pemerintahan Basar Al Assad.

Hal ini dipeparah dengan munculnya berbagai aktor kepentingan diantaranya kelompok pemberontak, jihadis, militer Suriah hingga aktor dari negara lain. Kompleksitas aktor dan kepentingannya memicu konflik Suriah untuk berjalan hingga 8 tahun lamanya (2011-2019).

Berikut adalah daftar negara beserta kepentingannya yang turut berkecimpung dalam konflik Suriah.

1. Rusia

france24.com

Vladimir Putin dengan Al Assad mempunyai hubungan yang baik jauh sebelum konflik Suriah terjadi.Hal ini diperkuat dengan adanya pangkalan akngakatan laut Rusia di pelabuhan Tartrus, sejak Rusia masih bernama Uni Soviet.

Rusia melihat Suriah sebagai negara dengan letak yang strategis di Timur Tengah. Hal ini membuat banyak negara gencar menanamkan kepentingan politiknya di negara ini. Keberadaan pangkalan militer tartrus memberi keuntungan besar bagi Rusia dalam memantau situasi terkini di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah Rusia juga memberikan bantuan logistic untuk pemerintah Suriah, dari mulai makanan, pakaian hingga kebutuhan medis. Untuk kebutuhan medis, Rusia rela menggelontorkan uang 500 jura dollar selama perang Suriah berlangsung.

Selain itu, Rusia juga memiliki hak istimewa di Dewan Keamanan PBB dan menggunakannya sebagai pembelaan jika negara-negara Eropa ingin membawa konflik suriah ke pengadilan internasional.

Berbagai bantuan yang digelontorkan oleh negeri ‘Beruang Merah’ ini adalah bentuk Rusia untuk mempertahankan pengaruhnya di Timur Tengah. Hal ini juga sebagai bentuk perlawanan terhadap langkah dari negara-negara Arab sekutu Amerika yang melakukan blokade bantuan kemanusiaan terhadap suriah.

2. Iran

dw.com

Seperti Rusia, Teheran juga mempunyai hubungan diplomatik yang serasi dengan Damaskus. Keduanya saling membantu untuk menahan pengaruh negara Israel di kawasan timur Tengah.

Suriah juga merupakan medium bagi Iran untuk menyalurkan bantuan menuju kelompok  Hizbullah, sebuah kelompok paramiliter Syiah yang bebasis di Libanon. Bantuan yang diberikan Iran ke Suriah sebagaian besar bersifat militer. Iran memeberikan  bantuan seperti pengesahan Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC), Ground Forces, Intelegence Services, dan Pasukan Al Quds.

Iran telah memasok senjata sejak 2011. Mereka mengirim teknologi militer dan pasukan militer menuju Suriah. Selain itu, Iran juga mempunyai kepentingan untuk menjaga dan memperbanyak kelompok syiah yang ada di Suriah. Saat ini di Suriah sendiri mayoritas penduduknya merupakan pemeluk Islam (87%) dengan rincian Sunni (74%) dan Syiah (13%).

3. Turki

Kiblat.net

Tak seperti Rusia dan Iran yang membacking rezim Assad, Turki dalam konflik ini bertindak sebagai oposisi konflik Suriah. Dalam konflik Suriah, Turki meminta Assad untuk segera turun dari tampuk kepemimpinan, mengingat pengananan konflik yang buruk dari Assad dan demonstrasi yang semakin massif dari waktu ke waktu.

Presiden Erdogan sendiri mengklaim bahwa apa yang terjadi di Suriah memberikan efek yang cukup besar terhadap masalah internal Turki. Keterlibatan Turki dalam konflik Suriah salah satunya diakibatkan oleh factor ekonomi. Kegiatan ekspor dan impor kedua negara berlangsung tinggi sebelum konflik terjadi.

Namun, dikarenakan konflik yang terjadi di Suriah, kondisi ekpor dan impor ini cenderung menuun dan berada dalam kondisi yang tidak stabil. Oleh karena itu, Turki mendesak agar Bassar Al Assad untuk segera turun untuk membuat kondisi negara Suriah menjadi stabil seperti sebelumnya.

5. Amerika Serikat

matamatapolitik.com

Posisi Amerika Serikat disini sama seperti Turki, ia mendukung kelompok oposisi untuk mengganyang Assad dari kursi Presiden. Bahkan, Amerika secara terang-terangan mengirimkan senjata untuk membantu para pemberontak dan piha koposisi setelah meyakini tudingan penggunaan senjata kimia oleh pihak Bashar Al Assad.

Alasan AS turut berkecimpung dalam konflik Suriah adalah untuk mempertahankan suplai minyak murah di kawasan Timur Tengah. Mereka juga memiliki misi untuk mempertahanan kepentingan ideologisnya di kawasan tersebut.

Selain itu, mereka juga aktif memberikan sanksi hukum internasional melalui badan PBB dengan menggunakan posisi merkea madding-masing di PBB. Total bantuan AS ke Suriah sejak 2011 hingga 2016 mencapai angka USD 6 miliar. Bantuan ini diperuntukan untuk kebutuhan logistic disana, meliputi makanan, obat-obatan, air minum bersih dan lain-lain.

5. Arab Saudi

dw.com

Arab Saudi telah menyumbangkn banyak uang dan senjata kepada pasukan oposisi Suriah, termasuk beberapa kelompok militan Islam.

Kepentingan Riyadh di Suriah adalah untuk menjaga aliran Sunni, yang mana dipeluk oleh mayoritas warga Suriah sebesar 87 %. Riyadh ingin mengganti Bashar Al Assad dikarenakan rezim itu mayoritas dikuasai oleh aliran syiah alawiyah yang tersebar di lingkaran pemerintahan.

Itulah beberapa negara yang telibat langsung konflik Suriah. Negara-negara tersebut mempunyai kepentingannya masing-masing mulai dari kepentingan ekonomi, politik, hingga ideologi

Adanya percaturan kepentingan tersebut membuat konflik Suriah berlangsung berlarut-larut dan sulit menemukan solusi penyelesaiannya. Hingga kini 370.000 orang dilaporkan tewas dan 13 juta warga Suriah menjadi pengungsi akibat konflik ini.

 

Komentar