Warnabiru.com – Virus Corona benar – benar membuat semua pihak kalang – kabut. Bagaimana tidak penyebaran virus yang berasal dari Cina ini begitu cepat. Wilayah penyebarannya begitu masif sehingga banyak dilakun rapid test Virus Corona untuk langkah antisipasi. Apabila yang dites ternyata reaktif disarankan untuk segera isolasi diri agar sembuh kemudian menjadi nonreaktid.
Menjadi masalah biaya rapid test Virus Corona itu pada awalnya tergolong mahal untuk kalangan masyarakat pada umumnya. Apalagi hasil rapid test ini mulai diperlukan untuk banyak kegiatan. Seperti perjalanan jauh, datang ke wilayah baru untuk tinggal di tempat baru itu dan sebagai syarat ikut tes pekerjaan.
Menyikapi hal itu pemerintah melalui kementrian kesehatan mengeluarkan batas tarif tertinggi rapid test Virus Corona yakni Rp 150.000. Bagi rumah sakit yang melanggar ketentuan itu akan diberi sanksi mulai dari teguran, peringatan keras dan tindakan lainnya yang tegas.
Selain itu pemerintah maupun kalangan medis berupaya menciptakan alat rapid tes Virus Corona ini. Tentu pembuatannya mengedepankan murah dan akurat. Akhirnya hal ini terwujud juga yakni adanya alat rapid tes Virus Corona dengan nama GHA Covid 19. Nama GHA sendiri diambil dari nama Universitas Gajah Mada dan Airlangga. Sebab dua universitas tersebut yang menguji validasi alat tersebut.
BACA JUGA: WHO Rilis Data Turunnya Akses Obat HIV di Tengah Krisis COVID-19
Berawal dari pengalaman Profesor Mulyanto diberi tugas Kementrian Riset dan Tekhnologi (Kemenristek) untuk membuat alat rapid test. Karena Profesor Mulyanto dan timnya dikenal telah membuat berbagai alat rapid test. Mulai dari alat rapid test hepatitis B dan alat rapid test DBD.

Hasilnya jadilah alat rapid tes RI-GHA Covid 19 dengan hasil akurat dan harga terjangkau yakni Rp 75.000 per paketnya. Kemampuannyapun dapat diandalkan dan tidak kalah dengan alat – alat rapid test dari luar negeri. Alat rapid test dalam negeri ini diproduksi di Laboratorium Hepatika Bumi Gora Mataram, Nusa Tenggara Barat. Di laboratorium ini terdapat 12 personil yang dipimpin Profesor Mulyanto.
Desain alat rapid test RI-GHA Covid 19 ini cukup sederhana. Di bagian atas terdapat tulisan huruf C yang berarti control. Sedangkan angka 1 merupakan penjelasan dari imunoglobulin G dan angka 2 adalah imunoglobulin N. Nah cara penggunannya yakni darah yang sudah dicampurkan cairan bufer akan memproses reaksi. Dimana hasilnya akan terlihat setelah 15 menit.
Jika garis C menunjukkan warna merah berarti alat tersebut tidak bisa bekerja. Namun bila menunjukkan angka 1 berwarna merah maka pasien reaktif. Apabila menunjukkan angka 2 merah maka pasien tertular sekitar 3 sampai 8 hari.
Pihak Universitas Gajah Mada sendiri sudah bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman menggunakan alat tes ini. Rencananya alat rapid test tersebut akan diserahkan kepada 25 puskesmas dan 76 dusun di Kabupaten Sleman.
Soal rapid test Virus Corona ini ternyata ada pihak berpandangan berbeda karena rapid test dianggap sebagai ladang bisnis saja. Dia adalah anggota Ombudsman RI Alvin Lie. Dibuktikan penggunaan surat keterangan nonreaktif untuk syarat perjalanan berpergian dan mendaftar perguruan tinggi. Selain itu menurutnya hasil nonreaktif rapid test tidak dapat dijadikan sebagai garansi seseorang bebas dari Virus Corona atau tidak. Jadi disarankan untuk dihapus saja karena hasilnya tetap akan sama saja.
BACA JUGA: Alasan Mengapa Banyak Orang Enggan Lakukan Rapid Test
Disarankan agar standarnya menggunakan swab test PCR. Dimana penggunaan PCR ini untuk kategori orang yang beresiko tinggi tertular Virus Corona karena kontak dekat dengan daerah yang dalam zona merah atau hitam. Apalagi ditambah fakta bahwa keadaan bisa berubah – rubah. Misalnya saat rapid test negatif kemudian saat naik angkot berubah menjadi positif. Jadi di titik itulah garansi bebas Virus Corona hangus.
Hal senada juga diungkapkan oleh Dokter Pandu Riono, Dosen Epidemiolog Universitas Indonesia. Menurutnya rapid test tidak berguna untuk menekan penyebaran Virus Corona. Karena menurutnya banyak ditemukan hasil rapid test palsu. Disebut reaktif padahal positif disebabkan karena rapid test tidak mendeteksi virus secara langsung, karena melalui antibodi.
Dokter yang mendapatkan gelar master Biostatistik dari Universitas Pittsbur, AS, ini memberi saran. Yakni sebaiknya diganti dengan PCR saja sebab PCR adalah pemeriksaan laboratorium. Dengan PCR inilah dapat mendeteksi adanya material genetik dari sel, bakteri dan virus. Tes PCR ini menggunakan sampel dahak yang kemudian diteliti di laboratorium untuk memastikan positif atau negatif terhadap Virus Corona.
