SMAN 3 Tangsel Mencabut Laporan Polisi Atas Lurah yang Ngamuk Karena Siswa Titipannya Ditolak

/banten.idntimes.com

Warnabiru.com - Secara resmi pihak polisi menghentikan penyelidikan atas Lurah Benda Baru, Saidun. Status tersangkanya dinyatakan gugur setelah pencabutan laporan oleh Kepala SMA Negeri 3 Tangerang Selatan, Aan Sri Analiah, atas laporan perusakan fasilitas sekolah.

Dilansir dari kompas.com hal tersebut dibenarkan oleh Kapolres Tangerang Selatan, AKBP Iman Setiawan. "Karena sudah berdamai dan ada pencabutan pengaduan. Walau bukan delik aduan tapi sudah tercapai rasa keadilan kedua pihak," ucap AKBP Iman Setiawan pada Jumat, 28 Agustus 2020.

Pihak Kepala SMA Negeri 3 Tangerang Selatan, Aan Sri Analiah menjelaskan bahwa pencabutan laporan itu dilakukan tanpa ada intervensi dari siapapun. "Tidak ada Insya Allah tidak ada (intervensi). Ini niat baik kami saja bahwa sudah ada itikad baik dari pak lurah dan sudah mengakui salah," ucap Aan Sri Analiah pada Sabtu, 28 Agustus 2020.

Tujuan mengapa Aan Sri Analiah mencabut laporan tersebut agar dirinya bisa fokus dalam memajukan program sekolah. "Mudah - mudahan ini menjadi pelajaran buat pak lurah juga, mungkin untuk semuanya. Dan saya inginnya langsung fokus ke program - program saya di sekolah, ingin melaksanakan program dengan baik," ucap Aan Sri Analiah.

Saat ini pihaknya tengah fokus dalam proses pembelajaran yang harus dilakukan ditengah - tengah wabah pandemi Covid -19. "Di masa pandemi ini banyak hal yang harus dilakukan agar proses pembelajaran daringnya berjalan dengan maksimal," ucapnya.

Kasus penendangan toples yang ada di meja kepala sekolah SMAN 3 Tangerang Selatan terjadi pada Jumat, 10 Juli 2020. Kemudian viral di media sosial karena aksi tidak terpujinya itu terekam CCTV. Alasan mengapa lurah itu menendang toples karena siswa titipannya tidak diterima di SMAN 3 Tangerang Selatan dalam Pendaftaran Penerima Peserta Didik Baru (PPDB).

Atas perbuatannya Lurah Saidu dijerat pasal 335 ayat (1) dan pasal 406 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan dan pengrusakan barang. Dimana ancamannya adalah hukuman penjara di bawah lima tahun.