Paguyuban Kandang Wesi Tunggal Rayahu di Garut yang Kontroversial

https://konfirmasitimes.com/

Warnabiru.com - Paguyuban Kandang Wesi Tunggal Rahayu di Garut tengah menjadi perhatian publik. Pasalnya banyak kontroversial tentang organisasi masyarakat ini. Hal tersebut terkuak pasca Paguyuban Wesi Tunggal Rahayu mendaftarkan organisasi mereka ke Kantor Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kabupaten Garut. Namun ditolak karena syaratnya banyak yang belum komplit, salah satunya akta autentik dari notaris.

Dilansir dari kompas.com sebelumnya Paguyuban Wesi Tunggal Rahayu ini tersebar di berbagai daerah seperti di Bandung, Tasikmalaya dan Garut. Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Kesbangpolinmas Kabupaten Garut, Wahyudidjaya.

"Kita masih inventaris pengikutnya, dari dokumen yang kita dapatkan, pengikutnya ada di empat kecamatan di Garut, kemudian di Kabupaten Bandung, Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya dan sebaran paling banyak di Majalengka," ucap Wahyudidjaya.

Uniknya Paguyuban Wesi Tunggal Rahayu ini membuat mata uang sendiri untuk alat transaksi para anggotanya. Di uang tersebut terdapat foto ketua paguyuban.

"Pakai foto ketua Paguyuban Tunggal Rahayu, tapi kalau lihat desain, ini gambar Soekarno sebetulanya, tapi mukanya diedit jadi foto yang bersangkutan," jelas Wahyudidjaya.

Lambang Paguyuban Wesi Tunggal Rahayu ini menggunakan lambang negara burung garuda yang sudah dirubah. Yakni kepala burung garuda tanpa mahkota dan melihat ke arah depan. Sementara itu di bagian tulisan Bhineka Tunggal Ika dimodifikasi dengan tulisan Soenata Logawa. Untuk pihak yang bertugas sebagai pembina dan penanggung jawab Paguyuban Wesi Tunggal Rahayu ini adalah Mr Prof Dr Ir H Cangkraningrat SH (Wijaya Nata Kusuma Nagara).

Dari jajaran Polres Garut yang diwakili oleh Kasatreskrim Polres Garut, AKP Armin Mappaseng. Diduga di dalam Paguyuban Wesi Tunggal Rahayu ini terdapat unsur penipuan.

"Dari dua hari penyelidikan yang telah kita lakukan , kita baru temukan ada dugaan pidana penipuan," ucap AKP Armin Mappaseng saat dihubungi kompas.com lewat telepon genggam pada Rabu, 9 September 2020.

Berupa punggutan dana sebesar Rp 100.000,00 hingga Rp 600.000,00 kepada setiap anggota. Para pengikutnya juga akan dijanjikan uang dan deposit emas.
Selain itu Polres Garut juga tengah melakukan pendalaman tentang perubahan lambang negara dan percetakan mata uang yang digunakan transaksi di kalangan anggota Paguyuban Wesi Tunggal Rahayu.

"Soal lambang negara dan percetakan uang, perlu keterangan dari saksi ahli, setelah saksi ahli memeriksa, tunggu kajian mereka baru bisa kita lihat apakah memenuhi unsur pidana atau tidak," jelas  AKP Armin Mappaseng.