Iran Dan Turki Mengecam Normalisasi Hubungan Izrael Dengan UEA

Sedang Populer

hery Jatmiko
kita harus tahu batasan diri kita sendiri

Warnabiru.com – Banyak negara – negara Arab yang mengutuk langkah Uni Emirat Arab (UEA) yang melakukan normalisasi dengan Izrael. Meskipun sebenarnya hubungan UAE dengan Izrael sudah terjalin sejak lama. Hanya saja secara resmi dikonstitusionalkan beberapa waktu lalu.

Dilansir dari bbc.com menurut putra makhota sekaligus penguasa de facto UEA, Sheikh Mohammaed Bin Zayed (MBZ). Kesepakatan ini mempunyai beberapa keuntungan yakni pihak Izrael berjanji akan menunda upaya pencaplokan wilayah Tepi Barat Palestina. Meskipun nantinya apabila janji itu dilanggar malah menjadikan blunder sendiri bagi MBZ di mata dunia arab sendiri.

Walapun di media sosial banyak pihak menghujat UEA habis – habisan, hal itu tidak membuat niat MBZ surut. Menurutnya dengan normalisasi dengan Izrael akan bermanfaat secara politik. Yakni untuk membendung kehadiran milisi proksi Iran dan gerakan Ikhwanul Muslimin di UEA.

Sehingga dengan kerjasama dengan Izrael paling tidak memberikan keuntungan secara strategi untuk UEA agar membendung kekuatan proksi Iran dan gerakan Ikhwanul Muslimin di UEA. Sebab Izrael juga mempunyai agenda sama yakni melawan proksi Izrael dan Ikhwanul Muslimin juga tentunya.

Secara militer normalisasi dengan Izrael bermanfaat juga bagi UEA, karena sesuai kesepakatan dengan Amerika Serikat. Apabila memulihkan hubungan dengan Izrael akan diberi akses membeli sejumplah pesawat F-35 milik Amerika Serikat. Meskipun langkah itu mendapat protes dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Karena dianggap mengganggu superioritas Izrael secara militer di kawasan Timur Tengah.

Iran dan Turki mengutuk kerjasama UEA dengan Izrael

Bagi negara – negara Arab pihak Izrael dianggap sebagai musuh utama. Sebab mereka mencamplok Palestina dan menguasai Masjidil Aqsa yang merupakan masjid penting bagi umat Islam di dunia.

Tidak heran Iran sangat mengutuk tindakan normalisasi hubungan antara UEA dengan Izrael. Hal itu ditunjukkan dengan pidato Presiden Iran, Hassan Rouhani. “Mereka (UEA) sebaiknya berhati – hati. Mereka telah melakukan kesalahan besar, tindakan pengkhiatan. Kami berharap mereka akan menyadari ini dan meninggalkan jalan yang salah ini,” ucap Presiden Hassan Rouhani pada Sabtu, 15 Agustus 2020.

Secara tegas Presiden Hassan Rouhani menganggap UEA sebagai pengkhianat, baik pengkhianat di kawasan negara arab maupun umat muslim sedunia. Sekaligus membantu Presiden Donald Trump untuk bisa kembali berkuasa di Amerika Serikat.

“Kenapa itu terjadi sekarang ? Jika ini bukan kesepakatan yang salah, mengapa kemudian diumumkan di negara ketiga, di Amerika ? Jadi seorang pria di Washington menang dalam pemilihan, Anda mengkhinatani negara anda, rakyat anda, muslim dan dunia Arab.” Ucap Presiden Hassan Rouhani.

Senada dengan Presiden Hassan Rouhani, Turki juga menganggap UEA adalah pihak munafik karena mau berdamai dengan Izrael. Hal tersebut diucapkan oleh pihak Kementeria Luar Negeri Turki dalam jumpa persnya. “Uni Emirat Arab, yang mengejar ambisi atas rencana Amerika yang prematur dan bermasalah, melupakan kekuatan Palestina,” pada Jumat, 14 Agustus 2020 saat jumpa press.

Selain itu tindakan UEA yang menjalin perdamaian dengan Izrael tidak bisa dimaafkan oleh negara – negara Arab lainnya. “Sejarah dan negara – negara Arab tidak akan pernah melupakan dan memaadkan tindakan ini. Uni Emirat Arab berdalih kesepakatan itu untuk Palestina, sejatinya untuk kepentingan mereka sendiri,” pungkasnya sebagai penutup

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Rekomendasi Untuk Anda

Sedang Populer