Terkuak Motif Pelaku Pelecehan Seksual Saat Rapid Test di Bandara Soetta

News.detik.com

Warnabiru.com - Pasca penangkapan terhadap tersangka EF seorang petugas rapid test di Bandara Soekarno - Hatta. Yang melakukan pelecehan seksual kepada penumpang berinisial LH, tersangka sudah diperiksa oleh penyidik.

Dilansir dari detik.com motif tersangka Ef melakukan aksinya karena faktor materi dan nafsu sesaat. Hal tersebut dibenarkan oleh Kasat Reskrim Polres Bandara Soekarno - Hatta, AKP Alexander Yurikho.

"(Motif) penipuan karena menginginkan uang lebih. Pelecehan karena nafsu sesaat," jelas AKP Alexander Yurikho pada Sabtu, 26 September 2020.

Dari pemeriksaan sementara EF melakukan aksinya ini baru pertama kali. Agar menjadi terang kasus ini pihak kepolisian tengah berkoordinasi dengan pihak Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

"(Pemeriksaan) pihak IDI masih terkendala sistem kerja WFH. Akan tetapi akan segera dikirimkan surat keterangan resmi (status pekerjaan EF)," jelas  AKP Alexander Yurikho.

Dalam kasus ini tersangka EF disangkakan pasal berlapis yakni pasal pelecehan seksual yakni Pasal 289 KUHP, Pasal 378 KUHP tentang penipuan dan Pasal 268 KUHP tentang pemerasan.

"Dikenakan pasal berlapis, yakni Pasal 289 KUHP tentang pencabulan dan atau Pasal 378 KUHP tentang penipuan dan atau Pasal 268 KUHP tentang pemerasan," jelas AKP Alexander Yurhiko, pada Jumat, 25 September 2020.

Seperti yang sudah diberitakan viral di media sosial postingan akun Twitter @listongs menjelaskan bahwa perempuan berinisial LHI merasa diperas dan dilecehkan secara seksual oleh oknum petugas rapid tes Covid -19 di Bandara Soekarno-Hatta.

Peristiwa yang terjadi pada 13 September itu terjadi saat dia hendak terbang ke Nias, Sumatera Utara. Hasil pertama reaktif sehingga LHI merasa tidak jadi ke Nias karena takut menulari sanak saudaranya disana.

Namun petugas menyarankan agar tes kembali dan menjamin hasilnya akan menjadi nonreaktif. Meskipun merasa ada yang tidak beres LHI mengikuti saran oknum tersebut.

Ternyata hasilnya memang nonreaktif. Namun setelah itu oknum petugas tersebut meminta Rp 1,4 juta kepada korban. Karena tidak mau memperpanjang masalah korban menurut permintaan pelaku.

Tidak hanya memeras ternyata pelaku juga melakukan perbuatan asusila kepada korban. Hal tersebut membuat korban syok dan trauma berat.

Pasca kejadian korban yang sudah sampai di Nias segera melaporkan hal yang dialami ke kepolisian terdekat. Namun karena lokasi TKP di Jakarta oleh polisi setempat disarankan untuk melapor di kepolisian Bandara Soekarno Hatta.

Pasca ditetapkan sebagai tersangka kemudian EF melarikan diri menggunakan kendaraan umum ke daerah Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara. Sekaligus disanalah tersangka EF ditangkap oleh pihak Polres Bandara Soekarno - Hatta pada  Jumat, 25 September 2020.