Selain Tokopedia Perusahaan Ini Juga Mengalami Peretasan Data Konsumen Bahkan Sampai Bayar Hacker

/www.pinterpolitik.com

Tokopedia tengah menjadi sorotan karena pada Mei 2020 forum peretas Raidforums mengaku memiliki data 91 juta penggunanya. Tidak hanya itu data vital itu dijual ke publik. Kemudian beberapa waktu lalu di anggota grup siber Facebook terlihat tautan link sebuah situs yang berisi data - data tersebut. Untuk bisa mengunduh file bocoran data pengguna Tokopedia itu harus menggunakan VPN karena servernya berbasis di Amerika Serikat.

BACA JUGA: Cara Menghasilkan Uang Dari Internet Dengan Berjualan Di Marketplace

Setelah melewati berbagai proses rumit maka kita akan melihat 91.174.219 nama pengguna. Mulai dari nama lengkap, email, toko online, tanggal lahir hingga nomor ponsel. Dari pihak Tokopedia menyatakan bahwa data pelanggan masih aman karena yang dicuri bukan data baru maupun informasi paswod.

Selain Tokopedia ternyata ada pula perusahaan - perusahaan tekhnologi internet lainnya yang pernah mengalami kebocoran data oleh hacker.

Seperti Uber yang sebanyak 57 juta data pribadi konsumennya bocor. Sehingga untuk mengamankannya membuat Uber harus membayar tebusan Rp 1,3 M kepada hacker.

1.Uber

www.youtube.com

Uber adalah perusahaan aplikasi penyedia transporasi yang menghubungkan sopir dengan penumpang. Perusahaan yang berdiri dari tahun 2009 ini telah beroperasi di sebanyak 173 negara dan 785 kota besar di dunia. Akibat ketelodarannya dalam bidang keamanan membuat hacker berhasil membobol data perusahaan ini. Hal tersebut setelah Uber mempublikasikan kepada publik pada tanggal 21 November 2017. Sebenarnya insiden ini sudah terjadi sebulan sebelumnya. Namun disembunyikan oleh bagian keamanan hingga diketaui pimpinan Uber baru setelah itu.

BACA JUGA: Sisi Lain Walikota Surabaya Risma yang Viral Karena Sujud Kaki ke Dokter

Dalam pembobolan itu data pribadi yang dicuri hacker adalah nama, alamat email, nomor ponsel 50 juta customer Uber. Sisanya sebanyak 7 juta adalah data pribadi dari pengemudi. Untuk dara pengemudi yang berhasil diretas juga adalah data SIM mereka. Atas insiden inilah CEO Uber Dara Khosrowshahi melaporkannya ke pihak kepolisan Amerika Serikat untuk mengusut insiden ini. Tidak heran pasca insiden ini Uber menggandeng mantan pengacara Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat sekaligus pemimpin Pusat Penanggulangan Teroris Nasional Amerika Serikat agar insiden itu tidak terjadi. Terdapat isu miring yang menyatakan bahwa Uber membayar hacker sebanyak Rp 1,3 miliar. Dengan syarat hacker tersebut harus menghapus semua data - data pribadi yang sudah diretas. Namun hal itu ditolak secara mentah - mentah oleh pihak Uber.

Sebelumnya di tahun 2016 insiden pembobolan data menimpa Uber. Sebanyak 32 juta pelanggan Uber di dunia berhasil diretas, sebanyak 2,7 juta pelanggan lainnya berasal dari Inggris. Data yang dicuri melengkapi nama lengkap, nomor ponsel, alamat ponsel dan paswod. Menurut pemerintah hal itu dilakukan karena serangkaian kecacatan pengamanan yang seharusnya bisa dihindari. Tidak heran atas kecerobohannya ini Pemerintah Inggris dan Belanda menjatuhkan denda terhafap Uber sebanyak Rp 17 miliar.

Setelah melalui investigasi panjang akhirnya pihak Uber menemukan titik terang soal hacker yang mencuri data - data perusahannya. Yakni pria berusia 20 tahun yang tinggal di Florida. Dia memanfaatkan sistem program bug bounty untuk bisa membobol data Uber.

2.Yahoo

Yahoo adalah perusahaan internet yang berpusat di Sunnyvale, California, Amerika Serikat. Perusahaan ini terkenal dengan mesin pencarinya yang mirip google. Yakni Yahoo mail, Yahoo News dan Yahoo Finance. Perusahaan internet yang berdiri pada tahun 1995 ini ternyata pernah juga tersandung skandal peretasan. Kabar itu terkuak di tahun 2016 saat Yahoo menyatakan bahwa setidaknya 500 juta akun Yahoo dibobol. Dalam penjelasannya di tanggal 22 September itu pihak Yahoo menyatakan bahwa hacker tersebut disponsori oleh negara. Hacker ini berhasil mencuri data pribadi pengguna mulai dari alamt email, nama, nomor telepon dan paswod. Namun secara terperinci Yahoo menjelaskan bahwa data penting seperti rekening bank dan kartu kredit tidak dicuri.

Kabar selanjutnya terjadi pada April 2012 saat Yahoo mendeteksi adanya dua peretas berusaha masuk sistem Yahoo. Kemudian pada Agustus 2013 seorang hacker berhasil membobol data 3 miliar akun pengguna Yahoo di dunia. Berikutnya di tahun 2014 hacker lagi - lagi meretas sebanyak 500 juta data pelanggan Yahoo.

Atas kesalahannya ini Yahoo menawarkan kompensasi bagi pengguna Yahoo yang menjadi korban peretasan. Namun kompensasi senilai Rp 1,65 triliun ini hanya berlaku untuk mereka yang berdomisili di Amerika Serikat dan Izrael Saja. Mereka wajib mengajukan klaim sebelum 20 Juli 2020.  Bagi yang terdampak maka akan mendapatkan fasilitas Credit Monitoring Service selama 2 tahun dan uang tunai dari US$ 100 dollar AS hingga US$ 358. Bagi pengguna yang mengalami kerugian kehilangan uang karena kartu kredit dikunci. Akan mendapatkan ganti rugi uang dan berlanggan Yahoo Premium tanpa iklan.

3.Facebook

Facebook adalah perusahaan yang bergerak di layanan media sosial. Perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg ini secara resmi sudah mengakuisisi Instagram dan Whatsap. Meskipun sudah berskala internasional ternyata perusahaan yang didirikan tahun 2004 ini pernah terjerat skandal pencurian data oleh hacker. Pada Mei 2018 sebanyak 3 juta data juta akun Facebook bocor. Kebocoran itu terekspos lewat aplikasi kuis kepribadian atau lebih dikenal dengan nama myPersonality. Dari data aplikasi itulah pengguna Facebook terlihat secara langsung. Hanya saja nama disana terpapar dengan anonim karena yang terbuka hanyalah keterangan usia, gender dan status hubungan.

Beberapa bulan setelah itu terjadi lagi kebocoran data. Pada Oktober 2018 hacker telah mencuri sebanyak 30 data pengguna Facebook. Data yang dicuri meliputi agama, username, jenis kelamin, tanggal lahir, pekerjaan dan 15 pencarian terbaru. Untuk mengatasi masalah ini Facebook telah melaporkan ke FBI guna diinvestigasi lebih lanjut. Selain itu Facebook juga melakukan log out terhadap akun Facebook yang diduga telah diretas hacker. Agar tidak terjadi lagi kasus yang sama pihak Facebook melakukan penangguhan sementara kerja sama dengan perusahaan analisis data Crimson Hexagon. Hal itu menyusul terkuak skandal bahwa sebelumnya Cambridge Analytica yakni perusahaan sejenis telah mencuri data Facebook dengan cara tidak patut. Namun setelah diinvestigasi lebih jauh pihak Crimson Hexagon terbukti tidak melakukan pencurian data.