Satgas Covid-19 Berikan Masker Di  Acara Pernikahan Putri Rizieq Shihab, Puluhan Relawannya Mengundurkan Diri

Detik.com

Warnabiru.com - Demi memastikan terjadinya protokol kesehatan dalam perkawinan putri dari Habib Rizieq Shibab. Pihak Satgas Penanganan Covid -19 memberikan bantuan masker dan hand sanitizer.

Dilansir dari kompas.com hal tersebut dijelaskan oleh Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito.

"Kami harus melindungi kesehatan masyarakat dan keselamatannya," pada Sabtu, 4 November 2020, saat dihubungi kompas.com

Dalam kegiatan pernikahan putri Rizieq Shibab itu dihadiri oleh 10.000 orang. Dimana acara itu dilanngsungkan di Jalan Petamburan III, Jakarta, pada Sabtu, 14 November 2020.

Ternyata bantuan masker dan hand sanitizer oleh Satgas Covid-19 membuat beberapa relawannya mundur karena kecewa. Hal tersebut dijelaskan oleh Abdul Mufid yang merupakan salah satu relawan yang mengundurkan diri.

"Pemberian 20.000 masker dan hand sanitizer itu menuai protes termasuk dari relawan. Mestinya acara itu ditertibkan sesuai protokol kesehatan, bukan malah disumbang masker sebanyak itu," jelas Abdul Mufid pasca menyatakan sikapnya didepan Hotel The Media yang terletak di Jakarta Pusat pada Kamis, 19 November 2020.

Menurut Abdul Mufid pembangian masker dan hand sanitizer oleh Satgas Covid-19 merupakan bentuk dukungan adanya kerumunan. Hal itu dianggap mencederai semangat kerja relawan yang selalu menghimbau tidak boleh adanya kerumunan agar tidak terjadi penyebaran Covid-19.

"Tindakan yang dilakukan itu telah mencederai usaha yang sudah kami bangun selama delapan bulan terakhir," jelas Abdul Mufid.

Setelah menyampaikan mosi tidak percaya kepada pimpinan Satgas Penanganan Covid-19 kemudian para relawan ini mengundurkan diri dengan ditunjukkan melepaskan rompi dan I'd Card masing - masing.

Terkait kebijakannya yang memberikan masker dan hand sanitizer di acara perkawinan putri Habib Rizieq Shibab ini. Pihak Satuan Tugas Penanganan Covid-19 yang diwakili ketuanya yakni Doni Monardo mengaku minta maaf.

"Sekali lagi mohon maaf apabila langkah - langkah yang telah dilakukan ini mungkin banyak pihak yang kurang senang," jelasnya dalam konferensi pers secara virtual di Wisma Atlet Kemayoran pada Minggu, 15 November 2020.

Dalam pembelaannya ini Doni Monardo menjelaskan alasan memberikan masker dan hand sanitizer dalam acara perkawinan putri Habib Rizieq Sihab itu bertujuan untuk memberikan perlindungan masyarakat dari penularan Covid-19.

"Ini semata - mata demi memberikan perlindungan terbaik kepada bangsa kita. Solus populi suprema lex, keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi," jelasnya.

Doni Monardo juga mengingatkan agar menunda acara yang menimbulkan potensi kerumunan.

"Sekali lagi kepada semua pihak, terutama kepada tokoh - tokoh yang masih memiliki keinginan untuk menyelenggarakan acara - acara yang menciptakan kerumunan, tolong ini ditunda dulu sampai kondisi pandemi ini bisa kita kendalikan," jelas Doni Monardo.

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya - Pihak Pemerintah Provinsi (Pemrov) DKI Jakarta menjatuhi denda sebesar Rp 50juta kepada Habib Rizieq Syihab karena membuat kerumunan terkait acara pernikahan anaknya dan kegiatan Maulid Nabi di Petamburan, Jakarta Pusat.
Dimana acara itu diselenggarakan pada Sabtu, 14 November 2020. Acara itu dianggap tidak mematuhi protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19 saat ini.
Terkait hal itu ahli epidemi dari Universitas Indonesia (UI), Iwan Ariawan menilai sanksi Rp 50 juta tidaklah cukup. Sangat disarankan acara yang menimbulkan kerumunan itu seharusnya dibubarkan.
 "Tidak cukup (sanksi denda Rp 50 juta) untuk selanjutnya perlu dicegah terjadi kerumunan. Seperti tidak memberikan izin berkumpul dan dibubarkan jika mulai ada kerumunan orang," jelas Iwan Ariawan kepada wartawan pada Minggu, 5 November 2020.
"Besaran denda tergantung peraturannya. Tidak cukup maksud saya. Tidak bisa hanya denda saja. Berikutnya harus tidak diberikan izin atau dibubarkan," jelas Iwan Ariawan.

 

Untuk hal perizinan acara tersebut dijelaskan oleh Brigjen Awi Setiyono yang berkapasitas sebagai Humas Polri.

"Jangankan izin ke Polri, setelah RT dan RW, apalagi yang ke atasnya. Cuma mereka sudah tahu bahwasanya ada kerumunan sehingga secara berjenjang mereka melaporkan dari lurah ke camat, camat ke walikota, walikota ke gubernur. Itu semua diketahui," ungkap Brigjen Awi Setiyono.

Terkait jerat hukum pidana yang akan disangkakan atas peristiwa kerumunan yang diciptakan oleh Habib Rizieq Sihab adalah Pasal UU Nomor 6 Tahun 2018 dan Pasal 14 ayat UU Nomor 4 Tahun 1984. Namun hal itu masih akan dirapatkan dan dianalisa lebih lanjut oleh Polri.

"Nantikan ada evaluasi, ada rapat, ada gelas perkara, sehingga disitu akan disimpulkan pelanggaran apa ini, pakai pasal mana ini yang dilanggar, unsur - unsurnya apa saja, barang buktinya apa aja," jelas Brigjen Awi Setiyono.