Refly Harun Akan Diperiksa Terkait Kasus yang Menjerat Gus Nur

Tribunnews.com

Warnabiru.com - Terkait wawancaranya Refly Harun dengan Gus Nur yang kemudian menjadikan Gus Nur sebagai tersangka atas pencemaran nama baik Nahdatul Ulama (NU). Pihak penyidik Bareskrim Polri berencana memeriksa Refly Harun.

Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Awi Setiyono di Gedung Bareskrim Polri.

"Yang menggugah, yang mengedit, shooting termasuk yang mewawancarai, semua akan kita panggil," ucap Brigjen Awi Setiyono pada Selasa, 27 Oktober 2020.

Untuk perkembangan lebih lanjut pihak Bareskrim telah memeriksa beberapa saksi. Diantaranya yakni ahli pidana, seorang ahli bahasa dan ahli ITE.

"Untuk ahli ITE sendiri, masih menunggu hasil pemeriksaan digital forensi," jelas Brigjen Awi Setiyono.

Dalam penjelasan kepolisian motif utama mengapa Gus Nur diduga melakukan pencemaran nama baik terhadap Nahdatul Ulama karena merasakan adanya perbedaan di Nahdatul Ulama (NU) saat itu.

"Karena menyampaikan unggahan di YouTube merupakan bukti nyata yang bersangkutan peduli terhadap NU," jelas Brigjen Awi Setiyono.

"Yang bersangkutan rasakan bahwasannya NU sekrang dan NU yang dulu sudah berbeda. Ini motif yang kita dapatkan," sambung Brigjen Awi Setiyono.

Dilansir dari detik.com terkait penangkapan Gus Nur ini Aliansi Santri Jember yang diwakili Koordinatornya, Junaidi. Sangat mendukung langkah pigaj kepolisian karena bergerak cepat menangani kasus tersebut. Karena sebelumnya Aliansi Santi Jember juga telah melaporkan Gus Nur ke Polres Jember dengan tuduhan serupa.

"Kami mengapresiasi kinerja pihak kepolisian yang telah cepat dalam memproses suatu laporan. Baik dari kami maupun dari masyarakat Nahdatul Ulama," ucap Junaidi pada Sabtu, 24 Oktober 2020.

Dengan ditetapkan Gus Nur sebagai tersangka atas kasus pencemaran nama baik Nahdatul Ulama ini. Junaidi berharap tidak akan terjadi kasus yang sama.

"Sebaiknya tidak terulang kembali. Buntutnya sekarang ini ditetapkan sebagai tersangka," jelas Junaidi.

Pihak Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) yang diwakili Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini. Juga mengapresiasi penetapan tersangka Gus Nur atas pencemaran nama baik NU tersebut.

"Pengurus besar Nahdatul Ulama menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada aparat kepolisian yang bertindak cepat dan siaga dalam penangkapan Sugi Nur Rahadrja. Ini menunjukkan bahwa Polri bekerja secara profesional. PBNU mempercayakan sepenuhnya kasus Sugi Nur kepada aparat penegah hukum. Selanjutnya kita hormati segala prosess hukum yang akan berjalan." Jelas Helmy Faishal Zaini dalam keterangan tertulisnya.

Helmy Faishal Zaini menyayangkan isi muatan dakwah Gus Nur yang bermuat kebencian. Seharusnya sebagai penceramah harus menyampaikan pesan berisi sopan santun dan saling menyatukan.

"Mengatakan bahwa NU merupakan organisasi yang beranggotakan PKI, liberal, dan lain sebagainya merupakan pernyataan tendensius dan cenderung bernuansa penghinaan, provokatif, bahkan fitnah. Sebagai seorang penceramah, sudah menjadi keharusan untuk menyampaikan pesan-pesan dengan santun. Bukan dengan bahasa caci-maki, bahkan fitnah, dan menebar kebencian," ungkap Helmy

Selain itu Helmy Faishal Zaini menilai ceramah Gus Nur terkesan sangat tendensius.

"Keluarga Besar Nahdlatul Ulama sejak lama melihat Saudara Sugi Nur secara terus-menerus menyampaikan narasi-narasi kebencian dan pernyataan yang tendensius kepada Nahdlatul Ulama. Pada 2019, keluarga besar NU telah melaporkan Sugi Nur atas penghinaan kepada NU, di tahun 2020 ia kembali mengulanginya," sebut Helmy.

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya Badan Reserse Kriminal Polisi Republik Indonesia (Bareskrim Polri) menangkap Suri Nur Rahardja atau lebih dikenal senbagai Gus Nur di rumahnya yang terletak di Malang. Penangkapan yang dilakukan pada Sabtu, 24 Oktober 2020 itu dilakukan pada pukul 00.00 WIB.

Dalam penangkapan yang dilakukan di Jalan Cucak Rawun 15L, Pakis, Kabupaten Malang itu. Polisi membawa beberapa puluh personil dengan lima mobil. Setelah menyerahkan surat tugas, surat perintah penangkapan dan penyitaan barang bukti. Kemudian kepolisian membawa Gus Nur ke Jakarta.

Kemudian Gus Nur akan ditahan selama 20 hari kedepan di rutan Bareskrim Polri. Terkait penahanan terhadap ini Gus Nur berupaya melakukan penangguhan penahanan.

Alasan mengapa dilakukan upaya penangguhan penahanan Gus Nur karena dirinya adalah pengasuh pondok pesantren, tulang punggung keluarga dan mempunyai beberapa program keagamaan. Diantaranya yakni program pembangunan 1.000 masjid dan bedah rumah untuk para kaum dhuafa.

Menurut Gus Nur yang diwakili pengacaranya penetapan tersangka terhadap Gus Nur dianggap tidak prosedural. Sebab menurutnya minimal harus ada pemanggilan terlebih dahulu. Tidak langsung dijadikan tersangka. Minimal panggilan dulu sebagai saksi, ada lidik, setelah itu dipanggil lagi baru ditetapkan sebagai tersangka.

Selain itu Gus Nur menyoroti penjemputan paksa dirinya. Padahal dirinya bersikap kooperatif. Melalui pengacaranya juga dirinya menyayangkan  baru bisa dijemput paksa. Nah inikan tidak. Kami juga menyayangkan penangkapan Gus Nur diteengah malam yakni di atas pukul 23.00 WIB.