Angka Omicron Di Surabaya Naik Signifikan, Begini Strategi Walikota Eri Cahyadi

Sedang Populer

Surabaya - Berdasar data Satgas Covid-19 Jawa Timur, per tanggal 28 Januari terdapat 156 kasus aktif di Kota Surabaya. Angka tersebut naik jika dihitung dari hari sebelumnya yakni 127 kasus.

Walikota Surabaya, Eri Cahyadi seperti dikutip dari Basra laman Kumparan, menyebutkan hampir 50 persen mereka yang terpapar memiliki riwayat perjalanan luar kota.

"Ada yang ke luar kota pulangnya sakit, tapi ternyata dampaknya Alhamdulillah tidak sampai parah dan sembuhnya langsung cepat,” ungkapnya, Sabtu (29/1).

Selain itu disampaikan pula, jika ada warga yang terpapar, diharap segera lakukan karantina di Hotel Asrama Haji. Namun, jika kondisinya kian memburuk serta butuh perawatan lanjutan, langsung dirujuk ke rumah sakit.

“Saya tidak perkenankan isolasi mandiri di rumah karena varian Omicron terhitung cepat penularannya. Insya Allah, biasanya empat belas hari yang sembuh juga banyak,” tambahnya.

Terkait kenaikan yang cukup signifikan, sejumlah strategi coba diterapkan. Terlebih, Surabaya telah berkomitmen untuk menjaga asesmen tetap berada pada Level 1.

Baca JugaDemi Jalin Persaudaraan, Lesus Tempuh Ratusan Kilometer, Naik Motor Dari Sumba NTT Datang Berlomba Di Sidoarjo

“Kita jaga ketersediaan tempat tidur di rumah sakit serta akan ada Tracing, Testing, Treatment," tandasnya.

Bed Occupancy Rate di Kota Pahlawan saat ini tercatat 1,92 persen. Predikat level 1 diberikan jika BOR kurang dari 60 persen.

Eri juga meminta Dinas Kesehatan Kota Surabaya untuk melakukan tracing dengan perbandingan minimal 1:23.

Jika ada kenaikan angka itu artinya pihaknya tengah menggiatkan tracing secara massif untuk mencegah penyebaran.

BACA JUGA:  Sandiaga Uno Proyeksikan 500 Miliar Rupiah Diperoleh UMKM Selama Pelaksanaan MotoGP

Baca Juga: Cara Edit Video YouTube Secara Online - Panduan Dasar Untuk Pemula

"Semakin banyak tidak apa-apa, kita obati. Yang bahaya itu ketika kita terlambat, tracing tidak tepat serta testing kurang cepat, maka hal semacam ini bisa menjadi bom waktu," ujarnya.

Strategi tersebut terlontar belajar dari pengalaman saat varian Delta masuk ke Kota Surabaya.

"Tidak ada swab hunter, swab massal, dan tidak ada testing yang massif, akhirnya meledak. Ini saya tidak mau, sekarang kita masifkan testing bareng tracing, setelah itu baru kita adakan treatment," lanjutnya.

Guna mengatasi perkiraan lonjakan kasus pada bulan Februari dan Maret, pihaknya telah menyiapkan langkah antisipasi.
Salah satunya pembatasan aktifitas di tempat keramaian seperti wisata Jalan Tunjungan.

"Linmas sudah saya koordinasikan terkait kapasitas pengunjung. Tiap pintu menuju Tunjungan pasti akan dijaga Satpol PP serta Linmas. Next, seminggu ini pertunjukan musik dikurangi juga guna menekan keramaian," paparnya.

Sebelum pembatasan diterapkan, pihaknya sedang melakukan asesmen, agar awal Februari kebijakan tersebut bisa segera diterapkan.

- Advertisement -

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Rekomendasi Untuk Anda

Sedang Populer